Showing posts with label #februari2016. Show all posts
Showing posts with label #februari2016. Show all posts

February 15, 2016

Bila Saya Ialah Rio Haryanto

Cukup lama saya mencari apa yang harus saya tuliskan hari ini. Membaca beberapa cerpen, mendengarkan lagu, menonton video di youtube saya lakukan dengan tujuan "biar dapat inspirasi", alasan yang cukup songong.

February 14, 2016

Ibu, Saya Minta Maaf

Ibu, seharusnya ini ialah surat cinta, namun sepertinya ini akan jadi surat permintaan maaf.
Ibu saya minta maaf. Sebagai salah satu dari ratusan juta anak-anakmu, saya hanya bisa diam melihat kau dilukai untuk kesekian kali oleh orang-orang tak

February 13, 2016

Kepada Seorang Kakak di Sana

Sesungguhnya, apalah arti surat ini. Tanpa surat ini pun, kau tahu apa yang kurasakan. Apa yang ingin kusampaikan. Aku tak bisa menyimpan rahasia apa pun darimu.

February 3, 2016

Surat Balasan Romo Untuk Sang Biarawati

Salam sejahtera,

Aku bingung harus memulai dari mana. Ternyata kau masih sama seperti gadisku dulu. Tegas dan lugas dalam menyampaikan sesuatu. Sebelumnya, maaf bila surat yang kuselipkan di buku catatanmu itu mengusikmu. Demi Tuhan, tidak ada sedikit pun niatku mengganggumu.

Sama sepertimu, aku juga tak menyangka pertemuan kita akan seperti ini. Melihatmu kembali tempo lalu membuat perasaanku campur aduk; bahagia, lega, sedih, marah. Sungguh lega dan bahagianya aku bisa melihatmu kembali setelah 9 tahun lamanya. Kau baik-baik saja. Namun, aku sedih dan marah, karena melihatmu, memaksaku membuka kembali buku usang yang telah lama kusimpan di gudang.

Aku masih mengingat rasa sakit itu, saat kau pergi begitu saja, meninggalkanku tanpa mau mendengar penjelasan dariku. Aku mencintaimu, Sisilia. Sungguh. Kau tahu itu kan? Namun, aku tak bisa menolak keinginan Bapak di akhir hidupnya. Bapak ingin aku menjadi seorang Imam. Mungkin, Bapak ingin menebus kesalahannya yang meninggalkan seminari karena bertemu Ibu. Bapak ingin menebus kesalahannya lewat anaknya; aku.

Kemudian dirimu menghilang. Aku bertanya pada Ayah dan Ibumu, juga Mas Ferdian kakakmu. Namun, mereka bungkam. Tak ada yang mau menjawab pertanyaanku. Lalu Miranda sahabatmu mengatakan bahwa kau telah bertunangan dengan seseorang.

Mendengar kabar itu, hatiku benar-benar hancur. Akhirnya, aku mengiyakan permohonan Bapak. Aku bersedia masuk seminari karena tak ada lagi yang bisa kuperjuangkan; dirimu.

Aku tahu aku bersalah. Benar-benar bersalah. Aku berdosa. Menjadikan panggilan-Nya sebagai tembok untuk bersembunyi. Melarikan diri dari masalah. Masuk seminari hanya karena sakit hati; karenamu Sisilia.

Kau tahu, doaku tiap malam hanya satu, kebahagiaanmu. Dengan atau tanpaku.

Kau benar Sisilia, kita harus sadar keadaan kita sekarang. Kita ini pelayan-Nya. Saat ini, aku benar-benar merasakan panggilan-Nya. Bukan karena permohonan Bapak, bukan karena sakit hatiku. Bukan karena siapa-siapa, tapi murni karena Dia yang memilihku.

Bila boleh bertanya, mengapa akhirnya kau memutuskan untuk menjadi seorang biarawati? Kuharap, alasannya tidak seperti alasanku dulu. Perempuan sepertimu takkan mungkin melakukan hal bodoh sepertiku.

Sisilia, lewat surat ini juga aku ingin mengucapkan selamat tinggal. Aku ditugaskan melayani di pedalaman Sulawesi dan mungkin kita tak akan bertemu lagi. Jaga dirimu Sisilia. Maafkan segala salah yang pernah kulakukan padamu.

Tuhan memberkatimu selalu.

Rm. Christopher Rendra

January 31, 2016

Ketika Seorang Biarawati Jatuh Cinta

Tak kusangka pertemuan kita akan seperti ini. Hal tersulit yang kulakukan ialah melupamu. Sungguh. Melihatmu minggu lalu, kau masih sama seperti laki-laki yang membuatku jatuh cinta, dulu.

Aku terkejut membaca surat kecil yang kau selipkan dalam buku catatanku. Kalau boleh jujur, terus terang, aku pun sama halnya denganmu; tak bisa menahan diri untuk tidak saling menyentuh. Kau tahu, layaknya buah terlarang di Taman Eden; kau begitu matang dan menantang. Memanggil-manggil untuk dicicipi.

Tak hanya seekor ular biadab yang menggodaku; menggeliat lembut di kedua daun telingaku, membisikiku untuk memetik dan merasakanmu. Ada begitu banyak ular; ribuan bahkan jutaan. Di sela-sela jari kakiku, melingkar di betis, di paha, di perut, di leher, di kepala, di kedua tangan. Mereka menari, menggeliat, menggerayangi, melingkar dan tak henti-henti membisikkan kalimat, "dekatilah, petiklah, makanlah", berjuta-juta kali.

Pelukmu terlalu hangat. Aroma tubuhmu terlalu memabukkan, bibirmu terlalu manis. Dan aku yakin setiap inci tubuhmu adalah lezat. Mana mungkin aku tak tergoda.

Kita harus sadar keadaan kita sekarang. Bagaimana mungkin seorang biarawati sepertiku saling bersentuhan kulit dan kulit dengan seorang Imam sepertimu? Meski hasratku untuk menyentuhmu begitu kuat, serupa kita 9 tahun lalu. Aku hanya berharap agar malaikat yang ditugaskan Tuhan menjagaku, mampu menahanku untuk tetap waras.

Ini jalan kita sayang; menjadi pelayan Tuhan. Jangan rusak panggilan-Nya, jangan sekali-sekali kita buat Dia marah. Jangan biarkan kita disesatkan dosa. Biarlah cinta yang telah lalu kita biarkan pergi; biarkan dia mati. Tak usah kita bangkitkan lagi.
Aku bangga melihatmu dibalik jubah putih itu dan, saat ini, aku menghormatimu, Romo.
Suster Sisilia

January 23, 2016

Sepenggal Kabar

Mencari selama kurang lebih 5 tahun bukan waktu yang singkat, benarkan? Bertanya pada teman-teman, stalking semua akun media sosialmu yang nampaknya tidak kau gunakan lagi, hingga mengetikkan namamu di mesin pencari Google. Setelah aku hampir putus asa, akhirnya, kudapat sepenggal kabarmu dari seorang teman.

Tuan, aku gembira mendengar kau baik-baik saja.

Yang tidak kusangka, saat melihat gambarmu, dentuman tak beraturan itu muncul kembali di dadaku. Senyum pun kerutan di kedua ujung matamu masih sama seperti dulu. Senyum yang sama, yang membuat hatiku berdesir melihatnya.

Sampai saat ini, aku masih tak tahu apa alasanmu menghindariku. Sama sekali tak punya petunjuk. Sungguh, begitu penasarannya aku, Tuan.

Otakku memutar kembali potongan-potongan kisah lama. Mulai kali pertama kita jumpa, saling melempar canda, hingga perpisahan kita yang menyakitkan. Apa, sih, yang saat itu temanmu bisikkan di telingamu?

Apa dia mengatakan aku jatuh hati padamu? Demi Tuhan, tak pernah sekali pun kukatakan hal itu pada siapa-siapa. Bagaimana dia tahu? Apa sikapku terlalu menunjukkan bahwa hatiku telah tercuri olehmu? Ataukah ada hal yang kulakukan membuatmu marah?

Jadi, Tuan, apa alasanmu menjauhiku dulu?

Kau tahu, sudah cukup sulit aku berusaha meyimpan rasa yang kupunya, berusaha bersikap normal sementara ada ribuan kupu-kupu beterbangan ke sana ke mari memenuhi perutku, rongga dadaku dan rasanya akan keluar dari mulutku saat melihatmu. Lalu kau menjauhiku; mematikan semua kupu-kupu yang kupunya. Membusuk kemudian jadi debu. Kau pasti tak tahu, orang sepertimu takkan pernah tahu!

Aku tidak marah padamu, Tuan. Sungguh tidak! Aku hanya kesal, mungkin kecewa. Bila benar kau tahu perasaanku dan tak bisa membalasnya, tak bisakah kita tetap berteman seperti biasa dan bukan diem-dieman seperti tak saling kenal hingga lulus?

Dan sialnya, hingga saat ini, perasaanku masih sama, Vic.

Teruntuk Tuan VTT.