February 15, 2016
Bila Saya Ialah Rio Haryanto
February 14, 2016
Ibu, Saya Minta Maaf
February 13, 2016
Kepada Seorang Kakak di Sana
February 3, 2016
Surat Balasan Romo Untuk Sang Biarawati
Salam sejahtera,
Aku bingung harus memulai dari mana. Ternyata kau masih sama seperti gadisku dulu. Tegas dan lugas dalam menyampaikan sesuatu. Sebelumnya, maaf bila surat yang kuselipkan di buku catatanmu itu mengusikmu. Demi Tuhan, tidak ada sedikit pun niatku mengganggumu.
Sama sepertimu, aku juga tak menyangka pertemuan kita akan seperti ini. Melihatmu kembali tempo lalu membuat perasaanku campur aduk; bahagia, lega, sedih, marah. Sungguh lega dan bahagianya aku bisa melihatmu kembali setelah 9 tahun lamanya. Kau baik-baik saja. Namun, aku sedih dan marah, karena melihatmu, memaksaku membuka kembali buku usang yang telah lama kusimpan di gudang.
Aku masih mengingat rasa sakit itu, saat kau pergi begitu saja, meninggalkanku tanpa mau mendengar penjelasan dariku. Aku mencintaimu, Sisilia. Sungguh. Kau tahu itu kan? Namun, aku tak bisa menolak keinginan Bapak di akhir hidupnya. Bapak ingin aku menjadi seorang Imam. Mungkin, Bapak ingin menebus kesalahannya yang meninggalkan seminari karena bertemu Ibu. Bapak ingin menebus kesalahannya lewat anaknya; aku.
Kemudian dirimu menghilang. Aku bertanya pada Ayah dan Ibumu, juga Mas Ferdian kakakmu. Namun, mereka bungkam. Tak ada yang mau menjawab pertanyaanku. Lalu Miranda sahabatmu mengatakan bahwa kau telah bertunangan dengan seseorang.
Mendengar kabar itu, hatiku benar-benar hancur. Akhirnya, aku mengiyakan permohonan Bapak. Aku bersedia masuk seminari karena tak ada lagi yang bisa kuperjuangkan; dirimu.
Aku tahu aku bersalah. Benar-benar bersalah. Aku berdosa. Menjadikan panggilan-Nya sebagai tembok untuk bersembunyi. Melarikan diri dari masalah. Masuk seminari hanya karena sakit hati; karenamu Sisilia.
Kau tahu, doaku tiap malam hanya satu, kebahagiaanmu. Dengan atau tanpaku.
Kau benar Sisilia, kita harus sadar keadaan kita sekarang. Kita ini pelayan-Nya. Saat ini, aku benar-benar merasakan panggilan-Nya. Bukan karena permohonan Bapak, bukan karena sakit hatiku. Bukan karena siapa-siapa, tapi murni karena Dia yang memilihku.
Bila boleh bertanya, mengapa akhirnya kau memutuskan untuk menjadi seorang biarawati? Kuharap, alasannya tidak seperti alasanku dulu. Perempuan sepertimu takkan mungkin melakukan hal bodoh sepertiku.
Sisilia, lewat surat ini juga aku ingin mengucapkan selamat tinggal. Aku ditugaskan melayani di pedalaman Sulawesi dan mungkin kita tak akan bertemu lagi. Jaga dirimu Sisilia. Maafkan segala salah yang pernah kulakukan padamu.
Tuhan memberkatimu selalu.
Rm. Christopher Rendra
January 31, 2016
Ketika Seorang Biarawati Jatuh Cinta
January 23, 2016
Sepenggal Kabar
Mencari selama kurang lebih 5 tahun bukan waktu yang singkat, benarkan? Bertanya pada teman-teman, stalking semua akun media sosialmu yang nampaknya tidak kau gunakan lagi, hingga mengetikkan namamu di mesin pencari Google. Setelah aku hampir putus asa, akhirnya, kudapat sepenggal kabarmu dari seorang teman.
Tuan, aku gembira mendengar kau baik-baik saja.
Yang tidak kusangka, saat melihat gambarmu, dentuman tak beraturan itu muncul kembali di dadaku. Senyum pun kerutan di kedua ujung matamu masih sama seperti dulu. Senyum yang sama, yang membuat hatiku berdesir melihatnya.
Sampai saat ini, aku masih tak tahu apa alasanmu menghindariku. Sama sekali tak punya petunjuk. Sungguh, begitu penasarannya aku, Tuan.
Otakku memutar kembali potongan-potongan kisah lama. Mulai kali pertama kita jumpa, saling melempar canda, hingga perpisahan kita yang menyakitkan. Apa, sih, yang saat itu temanmu bisikkan di telingamu?
Apa dia mengatakan aku jatuh hati padamu? Demi Tuhan, tak pernah sekali pun kukatakan hal itu pada siapa-siapa. Bagaimana dia tahu? Apa sikapku terlalu menunjukkan bahwa hatiku telah tercuri olehmu? Ataukah ada hal yang kulakukan membuatmu marah?
Jadi, Tuan, apa alasanmu menjauhiku dulu?
Kau tahu, sudah cukup sulit aku berusaha meyimpan rasa yang kupunya, berusaha bersikap normal sementara ada ribuan kupu-kupu beterbangan ke sana ke mari memenuhi perutku, rongga dadaku dan rasanya akan keluar dari mulutku saat melihatmu. Lalu kau menjauhiku; mematikan semua kupu-kupu yang kupunya. Membusuk kemudian jadi debu. Kau pasti tak tahu, orang sepertimu takkan pernah tahu!
Aku tidak marah padamu, Tuan. Sungguh tidak! Aku hanya kesal, mungkin kecewa. Bila benar kau tahu perasaanku dan tak bisa membalasnya, tak bisakah kita tetap berteman seperti biasa dan bukan diem-dieman seperti tak saling kenal hingga lulus?
Dan sialnya, hingga saat ini, perasaanku masih sama, Vic.
Teruntuk Tuan VTT.