Showing posts with label personal life. Show all posts
Showing posts with label personal life. Show all posts

March 9, 2020

Tentang Menulis


Menulis tidak semudah dulu. Saat otak saya sedang bekerja dengan baik, dalam sehari saya bisa menghasilkan tiga tulisan. Entah itu cerpen, monolog, atau puisi.

March 30, 2019

Datang Bulan dan Dramanya

Datang bulan kali ini paling menyenangkan sekaligus menyebalkan. Menyenangkan karena less drama tidur gaya nungging karena pinggang sakit ampun-ampunan tapi juga menyebalkan karena jadi lebih sensitif dan cengeng.

December 10, 2018

Saya dan Pernikahan

Di sela-sela membuat laporan kantor, saya buka folder-folder lama dan menemukan tulisan ini. Isi kepala saya setahun yang lalu.

Silakan dibaca.

Saya peringatkan dulu, yang ambil bagian paling besar dalam tulisan ini adalah ego saya. Jadi, ya, jika apa yang saya tulis ini menurut kamu keliru, tidak benar, bahkan salah besar—you named it, saya tidak akan minta maaf, sih. Karena ini, kan, pendapat saya. Ehehehe.

January 17, 2018

Kamu Melakukannya Dengan Baik

Gambar dari Google

"Sayang, kamu melakukannya dengan baik..."

Terima kasih untuk tidak menyerah. Terima kasih untuk tetap percaya harapan itu ada—tidak membiarkannya patah. Terima kasih untuk yakin yang kamu pelihara.
Terima kasih sudah keras berusaha.

Jadilah kaki, mata, tangan, pohon, air, angin, ensiklopedia, pena, kertas, selimut, minyak wangi, sepatu untuk dirimu sendiri. Ingat, kan, kata Ibu Kartini? Barang siapa dapat menolong dirinya sendiri, ia akan menolong orang lain lebih sempurna.

Lebih kuat, ya. Di depan kita masih banyak jalan penuh lubang. Kuatkan sabuk pengaman, lalu mari kita tetap jalan. Putar lagu-lagu kesukaan juga boleh; agar tidak bosan. Rehat sejenak tiada mengapa—sekadar melepas penat sambil minum sebotol air. Namun, jangan terlalu asik. Ingat, kita harus jalan lagi.

Selamat ulang tahun, Sayang.


18 Januari 2018 — Dua puluh menit lebih cepat.

Tertanda,
Dirimu Sendiri.

April 18, 2017

Harga Percaya

Pernah enggak kamu kehilangan kepercayaan—terhadap apa saja.

Percaya adalah salah satu barang berharga yang dipunya manusia. Diberi dan memberi satu percaya bukan hal sepele, bukan hal remeh-temeh. Sering kali kita mengucap, "Ah, begitu doang," padahal "begitu-doang" kita tadi bagi orang yang memberi kita percaya  adalah sesuatu yang serius.

April 6, 2017

Satu Alasan

Banyak sekali hal bisa saya sebutkan sebagai alasan mengapa saya jarang menulis. Mulai dari tidak punya bahan, tidak ada ide, butuh konsentrasi mengerjakan sesuatu, hingga alasan yang betul-betul jujur: saya malu untuk menulis. Sebuah alasan yang aneh, tentu saja. Saya juga mengamini, tapi saya memang sungguh merasakannya.

February 21, 2017

Kesal

Bila ada yang bilang tidak semua anak yang orangtuanya bercerai tidak bahagia, itu memang betul. Karena pada kenyataannya, tidak sedikit juga anak yang orangtuanya bercerai, hidupnya baik-baik saja.

January 30, 2017

Selamat Merdeka

Sebelum saya melanjutkan, saya ingin bertanya, pernahkah Anda ada di keadaan di mana Anda begitu bersemangat menulis, namun ketika berhadapan dengan buku dan pena atau gawai, justru tidak tahu apa yang akan Anda tulis?

January 28, 2017

Surga Itu Ada di...

"Surga ada di telapak kaki ibu"

Pernyataan yang kemudian membuat sebuah tanya—lalu muncul tanya-tanya lain—apakah seseorang kehilangan kesempatan masuk surga karena ia tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak—menghormati orangtua, dalam hal ini ibu? Apakah kehilangan kesempatan tersebut selalu murni kesalahannya—sebagai seorang anak? Pernahkah ada yang berpikir jika mungkin, bisa saja Ibu yang salah?

July 12, 2016

Tentang Menjadi Orangtua

Menjadi orangtua; suatu hal yang sampai saat ini saya takutkan. Saya memang belum menjadi orangtua. Setidaknya membutuhkan waktu cukup lama bagi saya, untuk menyandang gelar tersebut.

February 28, 2016

Perihal Menangis

Menangis ialah salah satu kegiatan yang sangat sering saya lakukan. Tangisan pertama saya pecah saat saya keluar dari rahim Ibu yang kurang lebih 9 bulan saya tinggali. Mungkin saya yang masih bayi itu tidak rela meninggalkan tempat pengap, gelap, basah namun hangat pun nyaman itu.

January 18, 2016

Selamat Ulang Tahun

Teruntuk kamu,

Selamat ulang tahun! Selamat menua. Harapku hanya satu; semoga kamu bisa lebih percaya pada dirimu sendiri. Kamu tahu, kamu terlalu meremehkannya. Kamu menganggapnya tidak bisa apa-apa. Kamu terlalu sering menyalahkannya. Kamu membuat ia tidak berharga. Kamu mengucilkan bahkan membencinya.

Ada ribuan amin yang ia bisikkan dalam tangisnya, untuk segala doa-doa baik yang kamu ucapkan tiap malam.

Sayang, percayalah padanya. Jadilah kuat dan mendewasalah.

Semesta memberkati ke manapun kaki-kakimu melangkah.

18 Januari 2016,

Tertanda,
Dirimu sendiri.

December 11, 2015

Mereka dan Lagunya

Sudah cukup lama saya tidak menulis --atau mengetik-- di blog ini. Alasannya macam-macam, mulai dari yang paling klasik: tidak punya ide, hingga alasan yang menurut saya paling songong: tidak punya waktu. Padahal intinya cuma satu: malas.

Bukannya tidak pernah menengok blog ini sama sekali, saya sering log in kemudian menulis --atau mengetik-- beberapa kalimat, lalu merasa blank dan berakhir dengan log out tanpa meninggalkan tulisan apa pun. Padahal saya sering sekali melakukan perjanjian dengan diri sendiri untuk rajin menulis minimal 1 tulisan setiap minggu. Dan, hasilnya nihil.

Baiklah, sudah cukup bertele-tele-ria, beralasan-alasan-ria.

Saya selalu merasa setiap masa yang saya lewati dan orang-orang yang saya kenal memiliki lagunya masing-masing.

Saat mendengar lagu Salah dari Lobo, yang muncul di ingatan saya ialah angkot yang sering saya tumpangi semasa sekolah dulu. Ya, karena setiap naik angkot, lagu tersebutlah yang selalu diputar berulang-ulang oleh abang sopir. Lagu Malaikat Juga Tahu nya Dewi Lestari mengingatkan saya pada perempuan yang saya rindukan saat ini, Mega Karinda. Yes Cancan, I miss you so fuckin' much!

Nothings Gonna Change My Love For You versi Jay Chou mengingatkan saya pada laki-laki yang saya kagumi diam-diam dulu di awal-awal menjadi mahasiswa. Laki-laki berambut ikal, pendiam, anak psikologi xx. Angkatannya sengaja saya sensor :)))

Jika mendengar Because Of You dari Kelly Clarkson, orang yang saya ingat ialah Mama --dan Papa. Lagu itu menggambarkan mereka. Pun Down To Earth nya penyanyi idola reremaja asal Kanada, Justin Bieber.

"I was so young, you should have known better than to lean on me"

"You tell me this is for the best, so tell me why am I in tears?"

Namun ada satu orang yang punya banyak lagu untuk saya. Sahabat Sejati Sheila On 7, Terlalu Lama Vierra, Twist And Shout The Beatles, If You're Not The One Daniel Bedingfield, The Only Exception Paramore. Orang ini cukup spesial bagi saya --saat itu. Jika kamu cukup jeli, dia lumayan sering saya tulis di sini :)))

Namun, sudahlah, itu kisah lama.

Lagu yang sering saya dengar akhir-akhir ini ialah Baby! It's You milik The Beatles. Buat saya, liriknya begitu manis --dan naif. Tentang seseorang yang kebingungan antara percaya pada cerita-cerita miring tentang orang yang ia cinta atau tetap berada di jalannya; mencintai sang kekasih dengan sepenuh hati. Dan pada akhirnya, ia memilih untuk percaya pada apa yang ia rasa; Pada cintanya.

"It doesn't matter what they say. I know I'm gonna love you any old way.

What can I do and it's true. Don't want nobody, nobody, nobody. 'cause baby it's you"

Menulis --atau mengetik-- panjang lebar begini dan tidak berfaedah dengan alasan "yang penting gue nulis" :|

Maafkeun!

November 1, 2015

Drama

Pernah merasakan komunikasi dengan orang yang kamu sayang dibatasi bahkan dilarang? Saya rasa, para penggiat cinta-jalan-belakang (?) tahu benar rasanya. Entah karena hubungan yang tidak mendapat restu dari orang tua, teman, lingkungan. Atau karena hubungan tersebut bukan hubungan yang "lurus".

Saya baru atau sebut saja sedang mengalami. Bukan, bukan dengan kekasih, namun dengan sahabat. Karena satu dan lain hal; yang tidak bisa saya tulis di sini, komunikasi saya dan sahabat dibatasi. Bahkan dilarang. Padahal ialah orang yang paling saya percaya untuk melepas segala isi kepala. Dia tidak pernah mengeluh bosan bila saya curhat masalah yang sebenarnya itu-itu saja. Pun saat saya meneleponnya hanya untuk mendengarkan saya menangis.

Beberapa hari yang lalu, akhirnya kami berkomunikasi lagi. Kami curhat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Kutub Utara ke Kutub Selatan. Ternyata, telah banyak hal yang terjadi selama komunikasi putus.

Banyak sekali drama yang terjadi, terlebih di hidupnya (maaf jika saya sebut drama, karena sungguh, kisahmu benar-benar layaknya drama. Peace out!) Namun, saya tahu sahabat saya kuat. Dia bisa menghadapi segala masalah hingga akhir yang happy ending dia dapatkan.

Saya tidak bisa membayangkan jika saya di posisinya saat itu. Sudah tentu, saya akan kalah. Menjauh, bersembunyi, dan menyerah. Membiarkan hati saya mencari rumah baru. Rumah yang mungkin saja lebih besar dan mewah, namun sama sekali tak nyaman. Walau, benar, sebelum dia mendapatkan rumah lamanya kembali, banyak sekali masalah yang terjadi.

Satu hal yang saya peroleh dari 'drama' ini: rumah yang besar dengan kolam renang, punya televisi besar, bahkan salon dan lapangan golf pribadi tidak menjamin kamu akan bahagia bila tinggal di dalamnya. Karena saya ialah tipe yang akan memilih rumah besar dengan segala fasilitasnya tersebut ketimbang kebahagian sendiri, maka saya kagum pada perempuan satu ini.

Saya berdoa agar tidak ada lagi badai-badai yang menghantam rumahnya, tidak ada lagi tamu-tamu tak tahu diri yang main masuk tanpa permisi. Saya ingin dia bahagia.

"Di drama-drama televisi, protagonis selalu dapat cerita yang happy ending. Antagonis? Biasa dia berakhir, kalo nggak kabur, mati, ya, jadi pembantu si protagonis"

"Kasian si Josh. Tenang Josh, laki-laki baik akan dapat perempuan baik juga, kok" x)

September 25, 2015

Selamat Datang

Ini lagumu yang ku tuliskan
Untuk temani di mana pun kau

Tetap semangat, jadi dewasa
Seperti yang kamu impikan

Jangan mengeluh, jadilah tangguh
Seperti yang kamu impikan

di mana pun kau berada bahagialah
di mana pun kau berada selamat datang

Tuhan tak akan meninggalkanmu
atas yakinmu sejauh ini

Jangan mengeluh, jadilah tangguh
Seperti yang kamu impikan

di mana pun kau berada bahagialah
di mana pun kau berada selamat datang

for all the good times and all the bad times
I will follow you with this song

for all the good times and all the bad times
I will follow you with this song

for all the good times and all the bad times
I'll follow you

Sheila On 7

September 21, 2015

"Saya Merindukan Saya"

Saya merindukan saya.

Kalimat di atas ialah yang sebenar-benarnya saya rasakan saat ini. Tadi siang, saat sedang bermain salah satu sosial media -- baiklah, Twitter, iseng-iseng saya mengetik username lama di kolom pencarian. Kemudian munculah celotehan-celotehan yang dulu pernah saya buat. Diikuti kenangan jangan lupa.

Ya, kenangan membuat perasaan saya naik turun tak karuan serupa sedang menumpang mobil Formula 1 yang dikemudikan Carlos Sainz jr; selain karena mobil melaju dengan kecepatan penuh, penumpang (wanita) mana yang perasaannya takkan naik turun bila melihat Carlos dengan wajah seriusnya di belakang kemudi? Ya, ya, saya mulai melenceng.

Saya merindukan saya.

Setelah meng-klik tombol search, keluarlah segala percakapan-percakapan maupun twit-twit saya dulu. Di sana, yang saya temukan ialah berbagai macam twit lucu (atau yang saya paksa agar lucu) yang saya buat. Membacanya cukup membuat kedua alis saya bertemu, dan berpikir:

"Gue segaring ini dulu?"

"Ini lucu dari mananya?"

Pun di sana muncul percakapan-percakapan saya dengan seorang pria -- yang tentu saja namanya pun username twitternya tak bisa saya publish di sini.

Saat itu saya masih 'anak bawang'. Anak baru. Benar-benar baru. Saya ialah anak daerah yang 'keluar' demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik di kota yang disebut orang sebagai kota pelajar. Oke, kalimat tadi terlalu berbelit-belit.

Sebagai anak baru yang belum kenal dan tahu apa-apa. Masih lugu. Atau naif. Atau bodoh tepatnya. Saya begitu terlena dengan kehidupan percintaan saya saat itu. Singkat cerita saya menahbiskan diri sebagai 'korban PHP'. Entahlah saat itu saya benar-benar di-PHP atau saya yang memang terlalu melebih-lebihkan perhatian pun perlakuannya yang membuat saya ngarep berlebihan. Intinya saya patah hati dan galau sepanjang tahun-tahun pertama kuliah.

Isi linimasa Twitter penuh dengan konversasi dengan pria itu, dengan teman-teman semasa sekolah menengah, dan teman-teman baru saya di kampus tentunya. Belum lagi dengan drama-drama nomention atau kode-kode yang bertebaran di mana-mana pun keluhan-keluhan tentang kuliah, tugas dan teman-temannya.

Ternyata saya pernah menjadi remaja labil. Alay. Kamseupay. Maklumlah, namanya juga anak daerah. Namun, perlu diperjelas, tidak semua anak daerah kampungan seperti saya. Catat baik-baik!

Saya merindukan saya.

Sekarang, isi linimasa saya begitu-begitu saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada tweet garing, percakapan dengan temàn-teman -- karena memang sepertinya lebih baik percakapan atau ngobrol tidak dilakukan di tempat di mana semua orang bisa mengakses.

Saya merindukan saya.

Yang begitu bawel di sosial media. Yang tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi kemudian bila saya menulis ini dan itu. Memang kurang begitu baik berunek-unek-ria di sosial media; Twitter khususnya, namun terkadang melakukan sesuatu tanpa perlu berpikir ini-itu ialah menyenangkan.

Spontanitas dan tanpa basa-basi itu yang hilang dari dalam diri saya. Mungkin sekarang saya terlalu jaga-image atau memang telah faktor usia.

Saya merindukan saya.

Saya ralat.

Saya merindukan spontanitas, kegaringan(?) dan situasi saya dahulu. Entahlah.

Maafkan pemilihan kata yang saya pakai di atas. Bila Anda menemukan diri Anda kebingungan setelah membaca tulisan ini, artinya Anda masih normal. Selamat!

Salam Random.

September 13, 2015

Perkara Curhat

Menyenangkan saat orang-orang sekitarmu bercerita, berkeluh kesah; menumpahkan apa yang Ia rasakan; entah suka atau duka. Artinya Ia percaya padamu. Bercerita tentang masalah yang sedang dialami pada orang lain bukanlah perkara mudah -- setidaknya untuk saya. Mungkin perihal malu-malu, rindu, cemburu-cemburu kala jatuh cinta, tidak begitu sulit untuk diceritakan. Namun, bagaimana dengan perkara-perkara pelik; keluarga, sebuah pilihan,  atau cita-cita, contohnya?

Bagi saya, mendengarkan cerita atau kita sebut saja curhatan orang lain itu menyenangkan. Selain merasa dibutuhkan, saya merasa dipercaya. Walau mungkin ada sebagian orang curhat pada saya, karena memang tidak punya teman curhat lain. Namakan saja terpaksa.

Pernah berada di keadaan di mana kamu pun ingin curhat, sekadar mengeluarkan sedikit "isi" kepala dan hati yang rasanya sudah overload namun tidak menemukan "tempat" yang tepat? Atau, justru banyak tempat, namun kamu tidak percaya untuk membuangnya di sana? Well, saya sedang.

Tadi pagi, ketika sedang bercermin, seseorang yang rupanya mirip saya berkata,

"Semesta itu lucu, ya? Saat tempat orang curhat sedang kebingungan, nggak tau harus curhat sama siapa. Eh, nggak tau atau nggak punya?"

September 9, 2015

Tuan Nona Kesepian

"Tuan kesepian, tak punya teman
Hatinya rapuh, tapi berlagak tangguh…"

"Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta
Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya..."

"Mereka berdua bertemu, di satu sudut taman kota
Bertatap tapi tak bicara, masing-masingnya menganalisa…"

Nona berkata,

"Tuan apa yang salah padamu?
Mengapa wajahmu ada seribu?
Tuan apa yang salah padamu?
Seakan dunia hanya kamu, kamu, kamu, kamu…"

Tuan berkata,

"Nona apa yang salah padamu?
Apa enaknya tenggelam dalam khayal?
Nona apa yang salah padamu?
Kau tahu ku tak punya hati
Kau masih saja menanti…"

Mereka terlarut dalam ego
Hati tertutup tak dengar kataku
Berkata tapi tak berkaca
Semua orang hanya angin lalu

Nona jatuh cinta pada Tuan
Tuan menunggu yang lain
Nona tak peduli walau Tuan
Tak pernah peduli sekitarnya

Tuan Nona Kesepian, Tulus.

March 22, 2015

Kau Tak Sendirian, Kawan!

Merasa sendirian. Sepertinya semua orang pernah merasakannya. Masalah datang tanpa henti, bagai omelan istri pada suami yang semalaman tak pulang. Bagai sindiran-sindiran tetangga saat tahu ada yang berselingkuh. Bagai kata-kata pedas juri acara pencarian bakat kala kontestan tak bernyanyi dengan baik. Merasa jengah pada dunia.

Jika merasa sendirian maka carilah kawan! Begitu kata sebagian orang.

Dipikir mudah mencari kawan! Kataku dalam hati.

Kau saja yang terlalu selektif! Kata suara yang lain.

Aku diam.

Selektif. Apa salahnya memang? Bukannya kita memang harus pintar-pintar memilih? Jika ada yang baik kenapa malah pilih yang busuk? Benarkan?

Kembali ke 'merasa sendirian'. Saat masalah datang, rasa itu semakin menyakitkan; terlebih pada orang-orang yang (merasa) tak punya kawan.

Merasa sendirian. Merasa hanya kita seorang yang punya masalah. Merasa hanya kita yang paling menderita.

Memikirkan hal itu (akan) membuatmu semakin jatuh. Kau tahu, semua orang di dunia pasti punya masalah, hanya saja dengan skenario yang berbeda-beda. Jadi, jalani saja.

Buat hidupmu menyenangkan dengan caramu sendiri. Dan satu hal, kau tidak sendirian kawan!