Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

October 26, 2018

Abu-Abu

Sudah hari ke sekian dan aku masih menunggu. Kadang-kadang─bahkan sering kutertawakan diriku sendiri. Menunggu sesuatu yang tidak tahu apa yang sedang ditunggu. Aku diyakinkan oleh entah apa─atau siapa, bahwa kamu ada. Keyakinan yang membikin sakit kepala. Melelahkan sekali rasanya meyakini sesuatu yang sungguh masih abu-abu.

Sistem di kepalaku menolak keras ketika kulontarkan ide untuk menghapusmu. Aku sungguh benar ingin berucap, "Aku rindu," lisan maupun teks untuk kamu.

Jangan terlalu lama abu-abu. Lekas tunjukkan kamu hitam atau putih agar aku tidak buang-buang waktu lagi.

September 17, 2015

Aku Ingin Lebih

Kata orang, sebenar-benarnya teman ialah ia yang tetap di sampingmu saat kau sedang susah. Dengan rela meminjamkan bahunya sebagai tempat kepalamu bersandar.

Kata orang, sebenar-benarnya teman ialah ia yang menerimamu apa adanya; suka kentut, bersendawa, pelupa, cerewet.

Kata orang, sebenar-benarnya teman ialah ia yang mendukung apapun yang kau lakukan.

Kata orang, sebenar-benarnya teman ialah ia yang tak segan membentak bahkan menamparmu saat kau salah jalan. Menyeramahimu dari pagi hingga pagi sampai mulutnya berbusa. Sampai telingamu panas.

Kata orang, setulus-tulusnya teman ialah ia yang tak pernah lupa menyisipkan namamu dalam rapalan doanya tiap malam.

Dan aku melakukan semuanya. Sayangnya, aku tak ingin hanya menjadi sekadar teman.

Aku ingin lebih.

September 9, 2015

maafkan hambaMu, Tuhan

maafkan hambaMu, Tuhan, yang terus menjadi seorang pembohong. membohongi Engkau, orang sekitarnya bahkan dirinya sendiri.

berbohong demi kebaikan tak mengapa, batinnya.

maafkan hambaMu, Tuhan, yang tak berhenti menjadi seorang penipu di tiap detik hidupnya.

maafkan hambaMu, Tuhan, yang tak memercayakan masalah-masalahnya padaMu.

lupa meminta padaMu
lupa mengetuk pintuMu

ia memilih bercakap dengan dinding kamarnya dibanding Engkau Yang Maha Segala.

maafkan hambaMu, Tuhan, yang seolah enggan mengandalkan Engkau si pemberi hidup. Hamba terlalu angkuh.

maafkan hambaMu, Tuhan, yang lupa bahagia…

March 3, 2014

Tentang Sebuah Pengakuan



Ini adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa aku menyukaimu. Pengakuan bahwa aku mengagumimu. Pengakuan bahwa aku, aku mencintaimu. Pernyataan terakhirku tadi yang paling kubenci.

Ya, aku benci harus mengakui mencintaimu. Aku benci...

Aku benci harus terpukau melihat kerutan di kedua ujung matamu kala bibirmu melengkungkan senyumnya. Aku benci menjadi pecandu tawamu. Aku benci saat aku terdiam kala kamu menyapaku di kelas. Aku benci saat aku mencuri-curi pandang matamu dalam diam.

Aku benci saat aku senyum-senyum sendiri karena mengkhayalkan terjadinya kita. Aku benci harus menangis sendirian tengah malam saat aku begitu merindukanmu.

Aku benci saat aku kehabisan kata-kata untuk membalas pesan singkatmu. Aku benci mengingat-ingat aku dan kamu yang tertawa begitu akrab. Aku benci mengingat usapan lembut jemari hangatmu saat aku pura-pura merajuk. Aku benci merasa begitu nyaman saat berada di dekatmu.

Aku benci mengakui hatiku tercuri olehmu. Aku benci...

Dan, aku benci menyadari bahwa kamu adalah sahabatku.

Ini hanyalah sebuah surat pengakuan tentang perasaanku. Entahlah, kamu boleh menganggapku gila atau apapun itu. Setiap orang berhak berpendapat, begitu pun kamu.

Aku tahu, aku mengerti, perhatianmu padaku hanyalah perhatian untuk seorang sahabat. Maaf jika aku salah mengartikannya. Maaf jika aku telah begitu berharap.

Ini hanya masalah waktu. Waktu dimana aku mengenalmu pertama kali. Waktu dimana akhirnya kita menjadi sepasang sahabat. Waktu dimana aku mulai diam-diam mencintaimu. Dan sekarang adalah waktu dimana aku mencoba meninggalkan rasaku untukmu.

Pada akhirnya nanti, kita akan kembali ke keadaan awal dimana aku dan kamu adalah sepasang sahabat. Sahabat sejati. Ya, ini hanya perkara waktu.

January 3, 2014

Karena Aku Seorang Perempuan

Karena aku seorang perempuan
Kadang disepelekan
Karena aku seorang perempuan
Kadang tak dianggap
Karena aku seorang perempuan
"Tak boleh keluar malam, nanti apa kata orang?"
Karena aku seorang perempuan
"Buat apa sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya cuma melayani suami?"
Karena aku seorang perempuan
"Harus sopan, jaga sikapmu. Jangan terlihat murahan"
Karena aku seorang perempuan
"Belajarlah bersolek agar ada pria yang melirikmu!"
Karena aku seorang perempuan
"Masa cewek duluan yang nembak cowok?"

Karena aku seorang perempuan
Jadi selalu disepelekan?
Jadi selalu tak dianggap?
Jadi harus terus-menerus tinggal di rumah?
Jadi tak boleh menuntut ilmu setinggi-tingginya?
Apa pepatah "Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina" tak berlaku bagiku?

Karena aku seorang perempuan
Harus terus-terusan tersenyum saat aku sedang kalut
Harus bersikap baik bahkan pada orang yang tak baik padaku?
Harus bertingkah seperti seorang putri rupawan agak tak dianggap murahan?

Karena aku seorang perempuan
Harus mati-matian bersolek agar dilirik banyak pria?
Cih. Haruskah menjadi orang yang palsu hanya karena aku seorang perempuan?
Dan, karena aku seorang perempuan
Harus terus-menerus memendam cinta?

Karena aku seorang perempuan.

                                                                                                               -Anggi-

December 18, 2013

"Aku Mencintamu Dengan Terlalu"

Aku yang merindu dengan terlalu
Kamu, belum tentu tahu
Aku yang terluka pun dengan terlalu
Kamu, justru menjadikan Ia sebagai candumu
Mungkin ini juga salahku
Tak memberitahu dahulu perasaanku
Aku yang hanya bisa mengagum pun mencintamu
Dalam diam
Dasar manusia pengecut!
Nurani memaki diri
Tanpa kuasa, kubenarkan makian itu
Semestinya cintaku bunyi
Semestinya kukatakan dengan lantang
"Aku mencintaimu dengan terlalu" 

December 16, 2013

Sebuah Lagu

Tangis yang selalu kunikmati sendiri
Isak yang kusesap tiap malam
Bagai lagu pengantar tidurku
Laguku tak bernada
Laguku tiada kata indah
Laguku hanya isak-isak kecil
Rasanya pedih...
Adakah yang ingin mendengar laguku?
Wahai tuan?
Wahai puan?

May 13, 2013

arti rinduku

Kalau saja rindu ini adalah uang, aku pasti sudah menjadi orang paling kaya di dunia.
Kalau saja rindu ini bisa dijual, aku pasti sudah menjualnya. Bahkan akan kuberi secara cuma-cuma bagi siapapun yang meminta.

Kalau saja rindu ini sebuah lagu, aku yakin tak akan ada seorang pun yang berani menyanyikan rinduku, karna ini akan menjadi lagu tanpa akhir.

Kalau saja rindu ini adalah doa, aku, saat ini sedang menyusun kata demi kata, permohonan demi permohonan, keluh kesah demi keluh kesah, sampai-sampai kata "Amin" sulit tuk ku ucapkan.


Anggi.