Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

March 13, 2016

Percakapan di Hadapan Sepiring Cap Cay

"Kamu sayang sama aku?",

"Pertanyaannya kok begitu?",

"Sayang, nggak?",

"Sayang",

"Kalau sayang, dimakan dong wortelnya",

"Dan, kamu sayang sama aku?",

"Ya... sayang",

"Kalau kamu sayang, kamu nggak bakal maksa aku makan wortelnya",



Kita. Malam itu.

February 28, 2016

Kejahatan Membalas Dendam(*)

Akhir-akhir ini rasa tidak sukanya pada Arini semakin menjadi. Sudah hampir dua tahun rasa itu Ia pendam. Sebisa mungkin Ia lupakan. Namun rupanya, rasa itu tetap tumbuh, terus tumbuh, semakin lama semakin subur.

January 25, 2016

Ibu Saya Bukan Ibu yang Baik

Ibu saya bukan Ibu yang baik. Setidaknya itu yang saya rasakan saat hampir 22 tahun tinggal seatap dengannya. Ibu selalu menyakiti hati saya.

Diberikan kalimat-kalimat pedas bagai sambal buatan Ibu sering saya terima. Saat nilai ujian matematika saya tidak sebagus seperti harapannya, sandal jepit yang sering Ibu pakai ke  kamar mandi melayang ke tubuh kecil saya. Jika wortel di sup ayam buatannya saya sisakan di piring, Ibu tak segan menjejalkannya ke dalam mulut hingga saya muntah-muntah.

Saya dan Ibu bukan berarti tidak pernah mesra. Kami pernah bermesraan. Bila tak salah ingat, kami mesra saat saya berulang tahun ke lima. Saat itu, Ibu mengajak saya bermain ke taman safari. Kami duduk di dalam bus dan berkeliling. Melihat zebra, singa, jerapah, gajah. Ibu membelikan saya es krim rasa stroberi. Tak lupa sebuah boneka beruang dan sepasang sepatu sebagai hadiah ulang tahun. Saya senang sekali. Itu kali terakhir kemesraan kami sebagai ibu dan anak.

Ibu saya bukan ibu yang baik. Ibu selalu pergi meninggalkan saya sendirian di rumah kontrakan kami yang sempit. Saya kerja buat kamu!, katanya bila saya menanyakan mengapa Ibu jarang ada di rumah.

Saya iri melihat Vira, teman sebangku saya yang jika pulang sekolah dijemput Mamanya. Saya iri melihat Fanny disuapi Bundanya saat saya dan teman sekelas menjenguk Fanny yang sedang dirawat di rumah sakit. Saya iri saat Katon dan Zahra saling pamer nasi goreng buatan Maminya yang katanya paling lezat. Tak pernah sekali pun saya dijemput Ibu saat pulang sekolah. Tak pernah Ibu membuatkan bekal nasi goreng. Tak pernah Ibu menyuapi saat saya sedang sakit. Yang ada ialah omelan dan kata-kata yang pedasnya berlipat-lipat yang saya terima. Saya iri. Iri sekali.

Ibu saya bukan ibu yang baik. Saat saya tumbuh menjadi seorang remaja, Ibu tak pernah mengizinkan saya bermain di luar seperti layaknya reremaja.

Berangkat sekolah saya diantar, pulang sekolah saya dijemput. Bukan oleh Ibu tapi Pak Dirman, sopir keluarga kami. Ya, perekonomian keluarga kami membaik. Kami tak lagi tinggal di kontrakan sempit. Kami tak perlu lagi hutang di warung untuk membeli beras. Kami tak perlu lagi berhutang untuk membayar uang sekolah.

Keadaan ekonomi yang membaik nyatanya tak membuat Ibu tinggal. Ibu masih sama seperti dulu, jarang di rumah. Yang berbeda hanyalah pakaian dan tas dan sepatu dan perhiasan yang Ibu pakai. Lebih bagus. Lebih mahal.

Saya tak pernah tahu apa pekerjaan Ibu. Yang saya tahu, Ibu sering keluar rumah dan pulang hampir pagi. Bahkan beberapa kali tak pulang sampai seminggu. Saya ingin bertanya, tapi sudah tentu jawaban yang sama saya dapat.

Ibu saya bukan ibu yang baik. Saat saya kecil, Ibu pernah bercerita tentang burung elang malam. Burung yang meninggalkan telurnya di sarang burung lain; menitipkan anaknya untuk dirawat, diberi makan oleh burung lain dan dia pergi bebas, terbang ke manapun yang dia mau. Melupakan sang anak.

Ibu saya bukan ibu yang baik. Ibu pulang pukul 2 dini hari, berteriak-teriak. Ibu mabuk berat. Segala sumpah serapah Ibu ucapkan. Dari dalam kamar saya bisa mendengar Ibu menyebut nama Ayah.

"Bajingan kamu, Mas! Kamu ninggalin aku demi pecun. Anjing! Kamu ninggalin anak kamu! Aku musti kerja banting tulang buat ngidupin anak yang aku juga nggak tahu siapa ibunya! Bangsat!"

***

Ibu saya bukan ibu yang baik. Namun, Ibu yang tidak baik ini merawat saya sejak bayi, bekerja pontang-panting, berhutang ke sana ke mari menghidupi saya; memberi makan saya, membayarkan uang sekolah saya, memberikan saya tempat tinggal; seseorang yang ternyata bukan darah dagingnya; seseorang yang ditinggal Bapak kandungnya demi perempuan jalang lainnya; selain Ibu saya.

November 5, 2015

Mencintai Isyana

Apa salahnya mencintai sahabat? Apa ada aturan, undang-undang, pasal atau teori yang melarang seseorang mencintai sahabatnya? Saya mencintai sahabat saya. Namun, layaknya kisah-mencintai-sahabat umumnya, saya hanya bisa mencintainya diam-diam.

Isyana namanya. Perempuan yang saya jumpai pertama kali saat sekolah menengah. Entah takdir atau sekadar kebetulan, kami selalu sekelas dan sebangku. Mungkin karena itulah kami berikrar untuk menjadi sepasang sahabat.

Seperti yang saya katakan tadi, Isyana dianugerahi wajah rupawan. Kulitnya putih bersih bagai porselen, dengan sepasang mata indah, hidung mancung, dan bibir yang berwarna merah jambu tanpa perlu polesan gincu. Rambutnya hitam panjang bergelombang. Suaranya merdu. Otaknya encer. Dengan begitu banyak hadiah yang ia terima dari Tuhan, tak heran bila Isyana menjadi siswa populer di sekolah, kuliah bahkan sampai kini, di mana kami sudah sama-sama bekerja.

Sejak dulu, banyak sekali laki-laki berusaha mencuri hatinya. Namun, pepatah yang mengatakan tidak ada manusia yang sempurna itu benar adanya. Isyana, sang perempuan sempurna pun nyatanya memiliki kekurangan. Ia tak pernah puas dengan kekasih-kekasihnya. Selalu saja ada yang kurang di matanya. Entah itu pelupa, tukang tidur, ngaret bahkan hal yang menurut saya remeh seperti suka menggigit kuku. Isyana, dengan kesempurnaan yang ia punya, wajar saja menuntut kesempurnaan dari kekasihnya. Saya memaklumi.

Sepanjang hidup dan sepanjang saya mengenalnya, Isyana hanya mencintai dua laki-laki. Pertama Bastian, cinta pertamanya. Seniornya saat di kuliah dulu. Laki-laki yang dengan rela Isyana berikan hartanya sebagai perempuan. Mereka berhubungan kurang dari tiga tahun. Saya bisa melihat Isyana benar-benar mencintai laki-laki ini. Saat hubungan mereka berakhir karena Bastian kedapatan berhubungan dengan Fenita teman sekampusnya, Isyana benar-benar terpukul. Tak kurang dari 15 kali ia mencoba mengakhiri hidup.

Saya, sebagai sahabat─sekaligus seseorang yang mencintainya─sungguh sedih. Saya bisa merasakan apa yang Isyana rasakan. Segala kesedihan dan kekecewaannya sama seperti kesedihan dan kekecewaan Ibu yang ditinggal ayah saat saya masih kanak-kanak karena Ayah punya perempuan baru yang menurutnya lebih cantik dari Ibu.

Melihatnya menangis, saya hanya bisa memeluknya sekuat tenaga. Meminjamkan bahu saya untuk kepalanya bersandar. Menemaninya dari pagi hingga pagi lagi. Memberikan kalimat penghiburan dan penyemangat yang sesungguhnya hanya pura-pura. Karena, meski saya tak suka melihatnya bersedih, di sisi lain, saya bahagia karena ia tak memiliki kekasih. Berharap agar hatinya bisa saya miliki.

Tahun berganti hingga akhirnya Isyana bertemu Aji Sastra; laki-laki kedua yang ia cintai. Laki-laki yang bukan hanya kekasihnya namun calon suaminya. Aji ialah rekan kerja saya di kantor. Sayalah yang mengenalkan mereka. Sesungguhnya saya tak puñya maksud apa-apa mengenalkan mereka, apalagi sampai menjodoh-jodohkan. Karena sungguh, saya tak rela hati Isyana dicuri kembali.

Isyana begitu mencintai Aji, saya bukan hanya melihat namun saya bisa merasakan. Cintanya jauh lebih besar ketimbang cintanya pada Bastian dulu. Dan saya begitu membenci Aji. Laki-laki ini telah mencuri cinta Isyana. Sesuatu yang sungguh sàya idamkan sejak dulu; hanya tak bisa saya ungkapkan.

***

Lima hari lagi pernikahan Isyana dan Aji digelar. Isyana yang memang anak dari keluarga Jawa sedang melakukan  tradisi pingitan, Isyana meminta saya menemaninya. Sepanjang hari, sejak tradisi pingitan ia jalani hingga saat ini, tak henti-hentinya Isyana bercerita tentang Aji. Aji Aji dan Aji. Di  pikirannya hanya ada Aji.

Saya yang awalnya menahan diri agar tak terlihat cemburu lama-lama tak tahan. Sudah cukup rasanya saya menahan diri untuk tetap menyimpan perasaan saya pada Isyana.

"Sudah cukup!", bentak saya saat Isyana bercerita tentang romantisnya Aji ketika melamarnya.

"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba marah?", Isyana kebingunan melihat saya yang tiba-tiba emosi.

"Aku lelah dengar cerita-cerita kamu tentang Aji! Aji Aji cuma Aji. Aku bosan!"

"Kamu kenapa, sih?" Nggak biasanya kamu begini. Kamu lagi ada masalah?"

"Iya. Masalahku itu kamu,"

"Aku? Maksud kamu apa? Jangan bikin aku bingung", Isyana terlihat semakin bingung.

"Kamu sadar kalau selama ini aku suka sama kamu?", saya sudah tak bisa menahan diri.

"Apa?!!"

"Aku cinta kamu, Isyana," rasa ini harus saya ungkapkan sekarang.

"Kamu gila!"

"Kamu ingat siapa yang selalu ada saat kamu sedih. Saat kamu kacau. Saat kamu terpuruk karena Bastian. Saat kamu merasa nggak berharga karena udah ngasih semuanya ke Bastian. Siapa yang ngasih kamu semangat?" emosi saya naik.

"Lo sakit. Lo gila", Isyana menjauh dari saya.

"Aku cinta kamu, Isyana,"

"Gue minta lo pergi sekarang. Jangan temuin gue lagi. Gue anggap kita nggak pernah kenal!!"

***

Itu kalimat terakhir yang diucapkan Isyana. Sebuah kalimat perpisahan yang menyakitkan. Andai saja saat itu saya bisa menahan diri untuk tidak mengatakan perasaan saya. Andai saja saat itu saya membiarkan perasaan saya tetap mengendap di dalam sana.

Saya tidak hanya kehilangan cinta, saya pun kehilangan persahabatan dengan Isyana.

***

Apa salahnya mencintai sahabat? Apa ada aturan, undang-undang, pasal atau teori yang melarang seseorang mencintai sahabatnya? Saya mencintai sahabat saya.

Kata orang saya salah. Isyana menyebut saya gila. Karena saya mencintai sahabat saya. Karena saya seorang perempuan yang mencintai perempuan.



AB.

September 27, 2015

Aku Ingin…

Ku umpakan keseluruhan diriku ialah lautan. Permukaannya ialah pantai. Dalamnya ialah samudra.

Aku ingin jadi pantai dengan pasirnya yang berkilatan jingga saat senja tiba. Airnya yang tenang. Angin semilir juga beberapa pohon ketapang sebagai tempat berteduh kala matahari menjerang.

Aku ingin jadi pantai; tempat orang bermain air, bermain pasir, menerbangkan layang-layang, duduk di bawah pohon sembari berbincang dan makan bekal dari rumah; tempat orang bersenang-senang.

Aku ingin jadi pantai; tempat orang menangis, membuang kenang yang menghilangkan tenang, bercakap dengan senja.

Aku ingin jadi pantai yang dirindukan orang. Aku ingin mereka tenang. Aku ingin mereka senang.

Aku ingin jadi samudra. Tidak, bukan aku! Tapi hatiku.

Aku ingin hatiku serupa samudra; luas dan dalamnya tak terkira. Hingga aku bisa menyimpan segala rasa yang kupunya di sana. Tanpa takut ia kan sesak karena terlalu penuh.

Aku tak perlu meluapkan marah, kecewa, tersinggung, sakit hati, takut dengan apa yang orang alamatkan padaku. Aku tak usah kepayahan meladeni mereka, karena semua bisa kusimpan, bisa kutampung dalam hatiku yang luas dan dalamnya seolah samudra.

Aku tak perlu meluapkan rasa bahagia, gembira bahkan jatuh cinta pun pada mereka. Semuanya bisa kusimpan dalam hatiku yang luas dan dalamnya seolah samudra.

Ada yang bertanya, mengapa aku tak ingin jadi langit. Tidak! Aku tak ingin jadi langit. Aku ingin jadi laut!

Aku hanya bisa memandanginya saja. Dari jauh. Aku tak pernah tahu bagaimana rasa langit. Seperti apa aromanya. Bisakah orang bersenang-senang di sana layaknya mereka bersenang-senang di pantai?

Jadi kutegaskan, aku tak ingin jadi langit!

Aku ingin jadi laut; jadi pantai; jadi samudra.


Kota M, 27 Sep 2015

Untuk Seseorang yang Ingin Jadi Laut

September 15, 2015

Tentang Naya

Namanya Naya. Mengkhayal ialah pekerjaannya. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan. Hingga sampai sekarang telah memasuki tahun ke sembilan.

Khayalannya sederhana. Hanya tentang kehidupan di masa lalunya. Tentang keluarganya. Tentang teman-temannya. Tentang betapa lurus perjalanan hidupnya kala itu. Tak ada masalah pelik yang dihadapinya. Bahkan tak pernah ada. Hidupnya bagai sehelai daun oak yang jatuh di aliran sungai saat musim gugur tiba. Mengikuti arus air yang tenang. Tiada hambatan. Tanpa perlawanan.

Hidupnya bahagia. Dulu, di kampungnya, siapa yang tak kenal Naya. Gadis muda belia yang cerdas. Keluarganya harmonis. Bukan orang kaya, namun apa yang ia butuhkan didapatkannya. Belum lagi teman-temannya. Indah, Ani, Rizky, Yanti. Mereka berikrar sebagai sahabat sejati. Juga Bayu kekasihnya.

Namun, semua berubah sembilan tahun lalu; sama seperti usia pekerjaannya sekarang; berkhayal. Ketika ibunya kedapatan sedang tumpang tindih dengan Pak Lurah di gubuk pinggir sawah Aki Lulung. Warga murka, mereka diarak telanjang keliling kampung. 

Keluarganya yang harmonis seketika berantakan. Kacau balau. Ibunya jadi gila, tak sanggup menanggung malu. Kejadian itu membuat Bapak dipecat sebagai mandor pabrik tebu.

Orang kampung tiada henti bergunjing. Sebagian memaki, terlebih ibu-ibu. Berbagai sumpah serapah mereka beri. Tak terkecuali sahabat-sahabatnya.

"Malu lah berteman sama orang yang ibunya jadi gila karena main gila", kata Yanti.

"Jangan-jangan nanti pacar-pacar kita direbut sama dia. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya", Ani menimpali.

Mereka terbahak.

Pun Bayu yang kini berpaling pada Indah, sahabatnya.

Bapak kemudian pergi ke Malaysia. Mengadu nasib menjadi tukang cuci piring di restoran milik kenalan lamanya. Menurut Naya itu hanya alasan. Bapak pun tak sanggup menanggung aib yang dibuat Ibu.

Jaga dirimu baik-baik, Nak, kata Bapaknya sebelum pergi.

"Hari ini cukup, deh. Kemalaman gue pulang, bini curiga nanti. Uangnya gue taro di meja. Thanks sayang"

Maafin Naya, Pak. Tak bisa jaga diri, Naya terisak di sela tangisnya yang tak bersuara.

***
Sepeninggal Bapaknya ke Malaysia, Danu, kakak lelaki pun saudara satu-satunya yang ia punya menjualnya ke Mak Inah, mucikari yang sering mencari perempuan-perempuan muda untuk dipekerjakan menjadi pekerja seks di Jakarta.

September 13, 2015

Penipu yang Insyaf

Namaku Dan. Perkara jenis kelamin, terserah kamu mau menganggapku seorang laki-laki, atau seorang perempuan. Toh, itu takkan memengaruhi keasyikan kita bercerita bila memang cocok; nyambung saat bertukar pikiran.

Sebagai seorang manusia, saya termasuk dalam golongan kurang ajar? Brengsek? Bejat? Entahlah yang mana. Sebentar, apa ada penggolongan manusia berdasarkan apa yang telah atau sedang diperbuatnya?

Kamu pasti bingung mengapa saya memasukkan diri sendiri dalam golongan manusia yang seolah takkan mungkin diampuni Sang Pencipta. Lucu sekali jika mengingat hal tadi. Manusia-manusia lain; di sekitar saya, menghakimi saya, menggelarkan saya sebagai Si Bedebah, Si Brengsek, Si Biadab, Manusia Kotor, dan kata mereka dosa saya terlalu banyak, hingga mustahil jika Sang Khalik dapat mengampuni. Banyak manusia yang mentahbiskan dirinya sendiri sebagai Tuhan.

Kembali ke pertanyaan saya tadi, perihal kebingungan kamu. Saya akui, saya memanglah sebenar-benarnya pendosa. Saya pembohong besar. Saya penipu ulung. Saya si raja tega. Entah telah berapa banyak orang yang saya tipu daya. Apa keberhasilan ini ialah karena kecerdikan saya, atau selama ini saya bertemu dengan orang-orang bodoh hingga begitu mudahnya mereka saya tipu. Saya pun bingung menjawabnya.

Ketika itu saya masih kelas 5 Sekolah Dasar. Lalu saya mencuri uang Nenek, padahal saya tahu, uang itu akan dipakainya membayar sekolah saya. Saat ditanya Nenek, saya berhasil mengelak, dan Nenek percaya. Itulah awal mula saya menjadi penipu hingga saat ini. Beranjak remaja, saya mulai menipu teman-teman. Yang laki-laki maupun perempuan. Demi bergaya seperti kaum borjuis saya menipu mereka. Pinjam uang, tak dikembalikan. Pinjam barang, lalu digadaikan. Saat mereka menagih, lidah saya seperti telah terlatih untuk mengelak, memberi alasan ini dan itu, dan bodohnya mereka percaya. Saya memang cerdik.

Ada saat di mana hari keberuntungan saya tak datang. Hari itu ialah hari di mana orang yang berhasil saya perdaya, sebut saja berhasil saya perdaya sementara mulai curiga. Uang dan barang yang saya pinjam mulai ditagih. Saya dilabrak, dimaki, dipukuli kemudian dilaporkan polisi. Namun, hari keberuntungan saya datang lagi hingga akhirnya saya berhasil melarikan diri.

Saya pernah menipu anak kecil, orang tua, suami orang, istri orang, kekasih orang. Bahkan, pengusaha dan artis-artis yang sering muncul di televisi pernah juga saya kelabui. Sungguh, banyak sekali orang bodoh di dunia ini.

Saya ialah Si Penipu yang mujur, hingga pada suatu ketika, hari kemujuran saya berakhir. Hari keberuntungan saya tak datang. Ia seolah lelah terus-terusan membantu penjahat seperti saya.

Ialah dia, seseorang di dalam cermin,

"Belum puas kau menjadi penjahat? Belum puas kau meracuni anakmu dengan uang haram itu? Apa kau menunggu dia mati baru kau berhenti?"

Ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat salàh satu kota di Jawa Tengah.

July 19, 2015

Rahasia Paman

Sudah kuduga mereka pasti kan bertanya. Prediksiku meleset. Kupikir, dengan sedikit polesan make up bisa membuat wajahku terlihat baik-baik saja. Perona pipi merah muda kupoleskan lebih tebal dari seharusnya, namun tidak bisa menutupi lebam di pipi kiriku. Belum lagi dengan luka di pelipis kanan dan mata bengkak.

Seharusnya aku berdiam di rumah saja. Mengunci diri di kamar, agar tak ada yang melihat wajahku yang entah seperti apa rupanya. Hingga takkan kutemui pertanyaan-pertanyaan sial itu.

Sama seperti malam-malam sebelumnya, tadi malam bajingan itu menghajarku habis-habisan. Masalahnya sepele, hanya karna aku terlambat membukakan pintu. Terang saja, mana ada orang yang masih terjaga pukul dua dini hari. Rambutku ditarik, wajahku ditampar, kemudian aku dihempaskan ke meja. Untung saja aku cukup gesit untuk menahan tubuhku agar tak rubuh. Kemudian yang kulakukan, menangis sampai pagi.

Bajingan itu ialah pamanku. Adik tiri mendiang ibu. Sampai di usianya yang hampir kepala lima, tak juga ia menikah. Bujang lapuk!

Pernah suatu kali teman kantornya datang ke rumah, mereka berbincang ngalor-ngidul hingga akhirnya kuketahui ia menjadi bujang lapuk begitu karna sakit hati. Perempuan yang dicintainya menikah dengan laki-laki lain.

Pantas saja, sampai saat ini ia tak pernah terlihat dekat dengan perempuan mana pun. Apà ia trauma? Apa ia membenci perempuan? Jika benar, tak heran, ia membenciku sebegitunya. Baginya aku ialah radio lama  peninggalan kakek-nenek; tak berharga namun tak bisa ia buang.

Hampir dua puluh tahun aku tinggal bersamanya. Sepeninggal ibu, aku dititipkan padanya. Ibu memang tak punya saudarà lain selain bujang lapuk itu.

Yang kutahu peringainya memang kasar, hanya saja tak sampai main tangan. Aku yang kanak-kanak sering dihadiahkan kata-kata kasar. Namun, sejak aku kelas dua smp, ia mulai main tangan. Pernah aku dipukul dengan ikat pinggangnya karena aku lupa menaruh gula di secangkir kopinya. Sambil menghajarku ia sering berteriak-teriak. Wajahku terlalu mirip ayah katanya.

***

"Wajahmu kenapa, Mbak?", tanya Ainun.

Pertanyaan ke delapan yang kudapatkan hari ini. Satu dari sopir taksi yang tadi kutumpangi, satu dari satpam, satu dari  mas resepsionis, tiga dari orang yang satu lift denganku, satu dari mbak OB dan satu dari Ainun; sekretaris paman.

Ainun ialah janda beranak dua. Walau telah kepala tiga lebih, namun wajahnya masih kencang. Dandanannya kece, badannya masih oke. Sering aku berharap agar paman jatuh cinta pada janda ini. Mungkin bila ia menikah, ia takkan menyiksaku lagi. Namun, bisa saja Ainun nanti yang merasakan hantaman tangan paman. Ah, tak tega aku padanya. Sudahlah! Jangan bahas Ainun. Ia tak begitu penting di sini.

"Bapak masih rapat, Mbak. Selesai pukul setengah dua belas. Setengah jam lagi", teriak  Ainun ketika aku berlalu tanpa menjawab pertanyaannya.

***

Siang ini aku ke kantor paman, mengantarkan map merah yang tertinggal di rumah tadi pagi. Entah isinya apa, yang kutahu isi map itu penting. Jika bukan karena bajingan itu mengancam tidak akan membayarkan biaya perjalananku keliling Eropa saat meneleponku tadi, tidak sudi aku. Sebelumnya ia mewanti-wanti agar aku sebisa mungkin menutup "hadiah" yang ia berikan dini hari tadi. Pun mengingatkan untuk tidak menjawab pertanyaan apapun yang orang berikan padaku.

Kau pasti heran mengapa ia bersedia mengeluarkan uang untuk seseorang yang dibencinya. Jika kau bertanya padaku, jawabanku tidak tahu. Alah, persetan dengan segala alasan. Aku tak peduli. Mungkin itu rasa penyesalan atau mungkin "upah" karena aku selalu jadi bulan-bulanannya. Yang penting bagiku, aku bisa bersenang-senang. Walau mungkin kesenangan itu harus dibayar dengan penyiksaan darinya.

***

Aku masuk ruangan kerja paman. Kosong. Sepi. Ia  memang tak ada di sana. Aku bebas mengamati. Sebagai seorang bujang lapuk yang tidak memiliki perasaan, ruañg kerjanya cukup rapi.

Map merah yang kubawa tadi kutaruh di mejanya, sembari mataku berkeliling. Kutemukan kotak kayu hitam di kolong meja di sudut ruang kerja paman. Rasa penasaranku muncul; ingin tahu apa isi kotak itu.

Kuamati kotak itu, atau kusebut saja peti kecil itu. Peti itu kusam, ada ukiran-ukiran di sisi-sisinya. Terlihat seperti barang antik.

Rasa ingin tahuku membuncah. Kuamati sekeliling. Sepertinya paman belum selesai rapat. Kata Ainun tadi paman akan selesai pukul 11.30. Kutengok arloji di tanganku, 11.15, masih 15 menit lagi. Cepat-cepat kubuka kotak itu. Ada sepucuk surat.

Kepada Raesaka,

Kau tentu tahu maksud surat ini. Kau pasti marah. Kau membenciku. Maafkan aku Rae. Aku benar-benar bingung.

Kau perlu tahu, aku benar-benar mencintaimu. Demi Tuhan! Namun, aku tak bisa menolak permohonan Ibu. Kalau pun Ibu tak memintaku bertunangan dengan Alex, kita tetap tak bisa bersama. Kau akan menjadi adikku. Ayahmu dan Ibuku akan menikah.

Maafkan aku Rae, aku mencintaimu.

Maila.

19 Juli 2015,
Anggi Bintang

November 16, 2014

Maaf, Tari.

Sudah seminggu ini hati Gusti gusar. Memikirkan segala kegundahan. Malam ini juga sama. Di kamar bercat kelabu, Gusti duduk di atas ranjangnya. Menyandarkan kepala yang terasa berat.

Gusti memikirkan Tari, wanita yang sudah 6 tahun dipacarinya. Wanita yang membuat hidupnya lebih berwarna. Wanita yang membuatnya merasa bagai seorang raja. Wanita yang seminggu lagi dinikahinya.

Aku harus memberi tahu Tari. Tiada waktu lagi. Batin Gusti berbicara. Lalu terlintas wajah Tari. Wanita cantik, pintar, mandiri, pengertian, juga lemah lembut. Wanita yang sangat ideal, sangat sempurna dijadikan seorang istri.

Gusti sadar, selama ini banyak pria yang berusaha mencuri hati Tari. Begitu banyak pria yang menginginkan Tari untuk dijadikan teman hidupnya. Begitu pun orang tua Gusti. Sungguh sayangnya ibu dan bapaknya pada wanita cantik itu.

Muncul potongan-potongan kenangan saat Gusti dan Tari berjumpa bertahun lalu. Di awali dari perkenalan mereka di pesta pernikahan Rahayu, teman sekantor Gusti yang juga teman semasa kuliah Tari.

Perkenalan itu berlanjut dengan saling bertukar nomor ponsel, kencan, hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Tari benar-benar wanita sempurna. Sangat sempurna. Pernah di satu waktu, ketika Tari ditugaskan ke Austria, Gusti mengalami kecelakaan mobil. Dengan sesegera mungkin, Tari pulang ke Bandung, demi Gusti.

Saat akhirnya Gusti harus bergantung pada kursi roda selama 3 bulan pasca operasi patah kaki. Dengan sabar dan telatennya Tari merawat Gusti. Tergambar jelas diingatan Gusti mata indah Tari, senyum manis Tari, lentiknya jari Tari. Dirasainya hangat pelukan Tari, manisnya kecupan bibir Tari, lembutnya kulit Tari. Semua membuat Gusti semakin merasa bersalah. Membuatnya semakin merasa berdosa pada wanita yang begitu sempurna itu.

Tak ada waktu lagi. Jangan jadi seorang pengecut. Hatinya menasehati.

Diambilnya ponsel di atas meja kayu bercat hijau tua. Gusti memencet empat angka pertama dari dua belas angka yang ia hafal di luar kepala. Nomor telepon Tari.

Dadanya berdegup kencang. Bibirnya bergetar. Satu kali nada panggilan. Dua kali nada panggilan. Di nada ketiga, terdengar suara lembut Tari. Peluh mengucur deras di seluruh tubuh Gusti.

Obrolan mereka malam itu tentang persiapan pernikahan mereka. Pada akhirnya, tak sedikit pun ia mengutarakan maksudnya pada Tari. Dasar pengecut! Gusti merutuki dirinya sendiri.

***

Hari pernikahan pun tiba. Dengan jas serba putih, Gusti dan iring-iringan menjemput sang calon istri untuk bersama ke gereja. Tak dapat dimungkiri, Tari semakin cantik dengan gaun putih yang dengan erat memeluk tubuh indahnya.

Lalu terlintas apa yang selama enam bulan ini dilakukan Gusti. Ia mengkhianati Tari, wanita yang begitu sabar dan setia bersamanya. Menemaninya. Haruskah Gusti menyakiti Tari dengan kenyataan yang begitu pahit ini di hari pernikahan mereka? Gusti semakin kacau.

Tapi, ini jauh lebih baik dari pada Tari tahu saat mereka telah resmi menjadi  sepasang suami istri.

10 menit  lagi pemberkatan dimulai. Gusti resah di bangkunya.
Harus sekarang juga. Harus. Hati Gusti semakin gusar. Nafasnya sesak.

Diajaknya Tari ke tempat yang lebih sepi.

"Ada apa, Ti?"
"Tari, aku minta maaf"
"Maaf untuk apa?"
"Aku mengkhianati kamu"
"Maksud kamu?"
"Aku… Selingkuh. Maaf."
"Apa???"

Hening…

Tari tak menjawab. Gusti memejamkan mata. Bersiap jika Tari tiba-tiba menamparnya. Tapi tak terjadi.

"Lalu siapa wanita itu?"
"… Dia…"

Muncul dari balik pintu, Thomas, kakak lelaki tertua Tari.

August 30, 2014

Operator Proyektor

Malam ini kedai kopi tak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi. Di sudut ruangan ada tiga gadis yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Di bagian tengah terlihat sepasang pasangan dewasa, mungkin pasangan suami istri. Dan di sudut yang lain ada aku. Sendirian. Tidak juga, secangkir espresso panas dan dua buah muffin coklat juga alunan lagu band Mocca yang kudengar melalui iPod merah; hadiah darimu  menemaniku. Juga kamu, di pikiranku.

Entah apa yang membuatku kembali ke sini; kedai kopi favorit kita dulu. Tempat di mana kita bertemu pertama kali. Saat kamu menghampiri mejaku, meminjam korek api untuk menyalakan benda putih dengan ujung manis itu. Tempat di mana aku dan kamu sepakat untuk menjadi "kita".  Juga tempat di mana kita bertemu untuk berakhir; 3 bulan yang lalu.

"Selamat ya sayang, kamu udah lulus. Satu dari beribu citamu sudah tercapai. Aku bangga sama kamu." Aku memulai percakapan.

"Iya, makasih sayang. Ini juga karna doa kamu. Cepet nyusul."

"Semoga tahun depan, ya."

"Kok semoga? Harus dong. Semangat!", katamu lalu mengacak lembut poniku.

"Iya ehehe..."

Lalu kita diam sejenak. Larut dalam pikiran masing-masing, mungkin. Entahlah.

"Kamu kenapa? Ada masalah?" Katamu memecah keheningan kita. Lalu kamu menggenggam tanganku. Hangat.

"Kamu itu orang yang baik. Baik banget. Mungkin karna itu banyak yang ingin dan senang jadi temanmu. Kamu selalu tulus, kamu selalu ada untuk siapapun yang butuh pertolongan." Ucapku.

"Lalu?"

"Aku bingung memulainya dari mana,"

"Kamu mau bilang apa, sih?"

"Aku mau kita… udahan. Maaf."

"…"

"Kamu gimana?"

"A apa, aku? Aku terserah kamu aja"

"Terserah?"

"… Iya"

"Ini yang aku nggak suka. Kamu nggak tegas. Kamu nggak pernah punya opini sendiri. Selalu bilang iya, terserah, ikut kamu aja. Kamu kenapa seperti ini, sih?"

"…"

"Kamu emang selalu bisa jadi teman yang baik buat semua orang. Baik banget. Tapi kamu nggak bisa, kamu bukan pacar yang baik!"

"Aku cuma nggak pernah mau bikin kamu kecewa."

"Dengan selalu bilang iya, nggak apa-apa, terserah kamu, aku ikut kamu. Gitu? Kamu nggak pernah marah kalau aku salah. Aku nggak minta selalu diturutin apapun yang aku mau. Aku ingin kita sama-sama saling mengingatkan kalau salah satu di antara kita ada yang salah. Ada yang keliru. Bukan ini!"

"Aku pikir kamu suka dengan sikapku ini".

"Aku bukan remaja lagi! Maksudku kita!".

"………"

"Jadi kamu mau terus diam? Mau terus ngikutin kata aku?"

"………"

"Aku mau kita udahan. Aku capek sama kamu. Aku capek sama patuh kamu. Aku capek sama nggak punya pendiriannya kamu".

------------------------------------

Kejadian malam itu muncul lagi. Entahlah, kedai kopi ini seperti sebuah layar putih yang siap menampilkan apapun yang operator proyektor putarkan. Dan sialnya, sang operator ialah aku.

March 27, 2011

Cerpen: Cowok Gue (Bodyguard Gue) PART I

“Ayah, apa-apaan sih nih?” kata Sigi marah-marah di handphonenya.
“Maksud Ayah apaan sih nyuruh orang buat ngejagain aku?” lanjutnya.
“Sigi, Ayah nyuruh dia buat jagain kamu, karena Ayah bakalan lama disini..” kata ayahnya.
“Ayah lupa siapa aku? Aku Sigi, pemegang rekor tak terkalahkan kompetisi taekwondo se-Jakarta.. Aku gak perlu bodyguard Yah.. malu-maluin tau gak, masa juara taekwondo punya bodyguard. Aku bisa koq jaga diri aku sendiri” kata Sigi kesal.
“Sigi, Ayah ngelakuin itu, karena Ayah sayang sama kamu. Lagipula Ayah tau siapa dia. Dia baik, dan Ayah yakin dia bisa jagain kamu selama Ayah gak ada..” jelas ayahnya.
“This jogja, not Jakarta. Gak bakal ada orang yang mau nyulik aku di Jogja..”
“Gak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus mau dijagain sama dia..” potong ayahnya.
Tut tut tut.. Telepon mati
*****
Danisha Sigi, seorang cewek periang, cuek, dan sangat jago taekwondo. Seorang Sigi yang baru saja lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah di Jogja. Salah satu alasannya memilih kuliah di Jogja karena julukan kota tersebut sebagai kota pelajar.
“Ok, tadi gue udah nelfon Ayah, dan ternyata apa yang lo bilang tadi bener. Ok, gw terima lo jadi bodyguard gue.. Tapi inget, jangan macem-macem” kata Sigi pada bodyguardnya.
“baik nona” balas bodyguardnya tersebut.
“Lo manggil gue apa? Nona? Ehh boy, nama gue Sigi bukan nona.. gak usah sok formil kaya gitu deh lo” kata Sigi.
“koq diem? Coba donk” kata Sigi ketus.
“baik..”
“baik apa??” tanya Sigi ketus.
“ba..baik Sigi” jawab bodyguardnya gugup.
“bagus”
“oh iya, gue udah bilang tadi kan, kalo gue gak suka dan gak mau di panggil nona, panggil gue Sigi. Trus, lo gak usah ngikut-ngikutin gue kemana gue pergi. Lo cukup duduk diem dirumah.. oh iya, bahasa lo biasa aja deh, gak usah pake saya-sayaan.. terlalu resmi. Pake lo-gue aja” lanjutnya.
“untuk memanggil anda Sigi, baik akan saya ikuti.. Dan untuk berbicara sesuai dengan anda, akan saya coba, tapi maaf, untuk tidak mengikuti kemana anda pergi, saya tidak bisa, karena itu sudah menjadi tugas saya..” jawab bodyguardnya.
“ahh.. gak udah terlalu berprinsip deh lo, yang penting gaji lancar, cukup kan? Lagipula Ayah gak tau ini.. Udah deh..” balas Sigi.
“kalo di liat, lo koq gak kaya orang yang lagi butuh kerjaan sih?”
“tampang lo gak ada tampang orang susah”
“ada bule-bulenya lagi. Bodyguard macam apa nih?? Keliatan lembek. Gak salah nih Ayah nyari bodyguard buat gue?” kata Sigi nyerocos gak jelas.
“oh iya, nama lo siapa?” Tanya Sigi.
“nama gue Eza” jawab bodyguardnya.
“E-z-a..” Sigi mengeja.
“jelek banget nama lo” lanjutnya.
***
Hari pertama Sigi sebagai mahasiswi terasa sangat menyenangkan. Banyak kakak tingkat yang menurutnya keren.
Gak salah gue kuliah di Jogja katanya dalam hati.
Sigi kuliah di salah satu universitas swasta favorit di Jogja. Ia mengambil jurusan Hubungan Internasional, alasannya agar Ia bisa menjadi seorang duta besar, sama seperti ayahnya.
Selama kuliah di jogja, Sigi tinggal di rumah Om Hadi, adik dari ayahnya. Rumah itu kosong, karena memang Om Hadi dan Tante Tiara istrinya sedang berada di Bandung, karena Om Hadi ditugaskan oleh kantornya di sana. Jadi kata Om Hadi, daripada rumah itu kosong, lebih baik Sigi tinggal dirumah itu. Sekalian jaga rumah, begitu kata Om Hadi.
Sigi tinggal bersama Eza bodyguardnya dan Mbok Yum, pembantu rumah tangga Om Hadi dan Tante Tiara.
***
“buruan dong Lo jalannya, Bodyguard kok lelet banget jalannya” kata Sigi sambil menarik tangan Eza.
“sabar.. Emang Lo mau kemana sih?” kata Eza sambil mengikuti Sigi.
“buruan. Kita harus ngikutin orang itu” kata Sigi sambil menunjuk seorang cowok dengan jaket merahnya.
“ngikutin dia? Emang dia siapa?” Tanya Eza
“ahh.. Lo gak perlu tau dia siapa. Pokoknya kita harus ngikutin dia”
Sigi buru-buru jalan persis di belakang cowok yang diikutinya, walaupun Ia tetap berhati-hati agar cowok yang diikutinya dari belakang tersebut tidak tahu dan tidak curiga pada tingkah laku Sigi.
***
Cowok yang diikutinya (lebih tepatnya dibuntutinya) itu adalah Gavin. Yang adalah kakak tingkat Sigi. Gavin adalah salah satu penyiar di radio kampus mereka. Sebenarnya Gavin tidak tampan, tapi manis dan memiliki charisma yang membuat Sigi (mungkin) falling love in the first sight. Gavin memiliki suara yang seksi menurut Sigi. Kharismanya keluar saat Ia on-air, pengetahuannya yang luas semakin membuat Sigi tergila-gila. Hingga melakukan hal gila. Seperti malam ini Ia (ditemani bodyguard pastinya) menunggu di radio am.pm FM, radio kampusnya. Mereka (tepatnya Sigi) menunggu Gavin selesai siaran hanya untuk mengantarkan mochacino buatannya. Karena dari informan yang terpercaya Ia tahu bahwa Gavin sangat suka minum kopi, khususnya mochacino.
***
23.30pm
Eza melihat jam tangannya.
Sebenarnya apa sih yang gue lakuin sekarang? Jagain anak ingusan kaya gini. Rela disuruh-suruh, dibentak-bentak. Butuh uang? tinggal minta bokap bisa. Butuh kerjaan? Hey, lo adalah dirut PT.hutama property, salah satu perusahaan property terbaik di negeri ini. Hey Eza, lo lulusan terbaik Harvard University, salah satu universitas terbaik di dunia batin Eza, sambil melihat Sigi yang sedang pulas tidur sambil mengisi waktu menunggu Gavin siaran.
Masa sih lo rela jadi bodyguard anak tengil kaya gini. Elo, Maheza Mario Hutama..
Lo ganteng, keren, kaya, pinter. Banyak cewek yang ngantri pengen jadi pacar lo. Bukan hanya satu, lima sekaligus. Tapi kenapa lo malah… Ngapain sih lo rela disuruh sama anak yang 4 tahun dibawah lo, apa mungkin gue. Eza menghentikan percakapan dengan dirinya sendiri.
Gak mungkin lanjutnya.
Tiba-tiba
“eh cumi, masih lama gak sih Ka Gavin siarannya? Kata resepsionisnya Cuma 2 jam. Kok ini udah hampir empat jam sih? Tanyain lagi sana” kata Sigi saat bangun.
“tungguin aja, paling bentar lagi”
“eh, gue nyuruh elo nanya ke mbak resepsionis, bukannya nyeramahin gue”
“ngerti gak sih lo? Bodyguard kok gak bisa diandelin. Udah sana” bentak Sigi
Dengan gontai Eza berdiri dan menuju ke meja resepsionis. Tapi
“Ka Gavin”
teriakan Sigi menghentikan langkah Eza menuju meja resepsionis. Dilihatnya Sigi memberikan botol minum yang berisi mochacino pada Gavin.
***
“Ka Gavin” panggil Sigi saat melihat Gavin keluar dari ruang siaran.
“lho Sigi, ngapain kamu disini?” Tanya Gavin heran.
“mm.. aku kesini mau nganterin ini” Sigi menyerahkan botol minum merah miliknya.
“aku tahu, Ka Gavin suka minum mochacino, makanya aku bikinin ini, special” jawab Sigi malu-malu.
“wah, kebetulan. Makasih banget ya Gi”
“aku minum ya”
“i..iya ka. Silahkan”
Gavin meneguk mochacino pemberian Sigi hingga ludes tak bersisa.
“wah.. enak banget”
“bener ka? Wah kalo Ka Gavin mau, aku bisa bikini ini tiap hari”
“yang bener”
“sumpah” kata Sigi sambil mengangkat tangan yang jarinya dibentuk seperti huruf V.
“haha.. iya percaya” balas Gavin sambil mengacak-acak rambut Sigi.
Sigi kaget sampai tak bisa bicara.
“hey, kamu kenapa?” Tanya Gavin bingung melihat Sigi.
“oh, gak papa kok ka” Sigi gelagapan.
“kamu nungguin aku siaran?” Tanya Gavin sambil duduk Giamping Sigi.
“iya Ka”
“lama banget dong ya? Aku kan siarannya hampir empat jam”
“gak papa kok Ka. Yang penting aku bisa nganterin mochacino buatanku ke Ka Gavin. Hehe”
Diam.
“oh iya, kamu udah mau pulang?” Tanya Gavin tiba-tiba.
“iya Ka, tujuanku kan cuma mau nganterin ini aja” jawab Sigi sambil mengangkat botol minumnya.
“bareng yuk. Aku nganter kamu pulang. Ya itung-itung ucapan terima kasih”
“beneran Ka? Aku mau” jawab Sigi penuh semangat. Tapi dilihatnya bodyguardnya yang daritadi melihat mereka ngobrol.
“bentar ya Ka”
Sigi pergi ketempat bodyguardnya berdiri dari tadi.
“Za, lo pulang sendiri. Gue baliknya bareng Ka Gavin”
“maaf, lo ga bisa pulang bareng dia. Lo harus pulang bareng gue”
“ah.. Ini kesempatan gue buat deket sama Ka Gavin, Za. Please, sekali ini aja ya?” kata Sigi dengan sangat memelas.
“please. Lagian lo bisa ngikutin kita berdua dari belakang kan?”
Eza bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, tapi akhirya
“ok. Lo boleh pulang bareng dia, tapi gue ikutin lo berdua dari belakang”
“thanks Eza. Lo emang baik” kata Sigi bahagia.
Sigi pun meniggalkan Eza dan langsung menghampiri Gavin yang menunggunya di Lobby.
***
Sebenernya apa sih yang gue pikirin. Gue ngebiarin dia jalan sama cowok lain. Padahal gue tahu, kalo hati gue sakit pas liat dia jalan sama cowok itu. Lo bego banget sih Eza kata Eza dalam hati.
***
Di mobil, Sigi sangat gugup karena ini pertama kalinya Dia berduaan dengan Gavin. Rasanya Ia ingin teriak dan bilang hai gue Sigi, naik mobil berdua sama Gavin, dianterin pulang lagi. Gue bahagia sekarang tapi Ia tak mau dicap orang gila, makanya Sigi mengurungkan niatnya itu.
“Gi, tumben kamu diijinin lepas dari bodyguard kamu itu” suara Gavin memecah kebisuan.
“hah? Bodyguard? Yang mana Ka?” Sigi kaget dengan pertanyaan Gavin.
“lho, trus dia apa? Bukannya dia itu bodyguard kamu?”
Sigi bingung harus menjawab apa. Ia malu jika harus mengaku bahwa Eza memang adalah bodyguardnya.
Wah, gue harus jawab apa ini? Masa gue harus ngaku kalo Eza bodyguard gue. Tengsin gue kalo ketauan. Ntar Ka Gavin nilai gue cewek lemah, pake dikawal kemana-mana. Gak. Ka Gavin gak boleh tau. Sigi bicara dalam hati.
“Gi.. Kok ngelamun?”
“ah, gak kok kak? Siapa yang ngelamun? Oh iya, Ka Gavin nanya apa tadi?”
“ternyata kamu emang ngelamun. Aku tanya cowok yang sering jalan sama kamu itu bodyguard kamu?”
“hah? Bodyguard? Gak kok Ka. Dia itu Eza, kakak sepupu aku. Dia kuliah di Aussie. Sekarang dia lagi liburan, makanya dia jagain aku disini” Sigi berbohong.
“oh, tapi kok lebih keliatan kaya bodyguard ya?”
“ah gak kok ka, biasa aja. Maklum aku kan sepupu cewek satu-satunya dan paling kecil, makanya dia protektif banget sama aku” Sigi berbohong lagi.
Mudah-mudahan aja Ka Gavin percaya sama apa yang gue bilang kata Sigi dalam hati.
“oh iya Ka, aku..”
Belum sempat Sigi bicara tiba-tiba Handphone Gavin berbunyi.
“bentar ya Gi” kata Gavin
“ya halo?”
“iya, kamu tenang aja. Aku inget kok”
“pasti.. pasti aku jemput kamu sayang. Iya.. dah. Love you too” Gavin menutup teleponnya.
Mendengar kalimat terakhir Gavin, hati Sigi bagai tersengat listrik 15000MV. Seperti disilet-silet, lalu disirami cuka. Sakit.
“maaf ya kepotong. Tadi pacar aku, dia mau balik ke Jogja, dia kuliah di Bandung. Ke Jogja karena mamanya sakit”
“oh iya, kamu mau ngomong apa tadi?” tanya Gavin sambil menyetel CD di mobilnya.
“gak Ka. Gak jadi”
***
Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi…
Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya
Alunan lagu Pedih milik Last Child mengalun di kamar Sigi malam itu. Sepedih hati Sigi yang tahu bahwa ternyata saat ini ia sedang patah hati.
Ia menyadari betapa bodohnya Ia sampai tak tahu bahwa ternyata Gavin, sosok yang dikaguminya ternyata sudah punya pacar.
Tok.tok.tok pintu kamar Sigi diketuk dari luar
“siapa?”
“gue. Eza”
Pintu kamar Sigi terbuka. Muncullah sosok Eza dari balik pintu.
“Lo gak papa?” tanya Eza sambil mendekati Sigi.
“klise kalo gue bilang gue gak papa” kata Sigi dengan tatapan menerawang.
“Gue tau lo lagi pengen sendiri. Gue kesini Cuma ngecek keadaan lo aja. Gue keluar sekarang”
“tunggu Za”
“temenin gue ya. Gue butuh temen” lanjutnya.
Eza berbalik dan berdiri disamping tempat tidur Sigi.
“duduk sini Za” Sigi mempersilahkan Eza duduk diranjangnya.
“gak papa. Status kita malam ini bukan sebagai majikan dan bodyguard. Tapi temen”
Dengan ragu-ragu Eza pun duduk tepat disamping Sigi.
“Za, menurut lo gue bego gak sih?”
“maksud Lo?” Eza tak mengerti
“gue bego gak sih? Sampe gak tau kalo ternyata Gavin udah punya cewek?” tanya Sigi.
Eza diam, Dia ragu-ragu, Dia bingung harus jawab apa.
“kok diem Za? Kenapa? Jawab aja. Kalo emang menurut lo gue bego, bilang aja”
“gak kok Gi, lo gak bego. Gak ada yang bego, gak ada yang salah” jawab Eza.
“lo yakin? Gue ngerasa bener-bener bego Za. Gue…” air mata Sigi akhirnya tumpah.
Eza bingung apa yang harus Dia lakukan, tapi akhirnya tangannya mengusap kepala Sigi dan meletakkannya dipelukkannya. Hanya itu yang bisa Ia lakukan sekarang. Sigi menangis sesenggukan dipelukan Eza.
***

bersambung....