"Kamu sayang sama aku?",
"Pertanyaannya kok begitu?",
"Sayang, nggak?",
"Sayang",
"Kalau sayang, dimakan dong wortelnya",
"Dan, kamu sayang sama aku?",
"Ya... sayang",
"Kalau kamu sayang, kamu nggak bakal maksa aku makan wortelnya",
Kita. Malam itu.
"Kamu sayang sama aku?",
"Pertanyaannya kok begitu?",
"Sayang, nggak?",
"Sayang",
"Kalau sayang, dimakan dong wortelnya",
"Dan, kamu sayang sama aku?",
"Ya... sayang",
"Kalau kamu sayang, kamu nggak bakal maksa aku makan wortelnya",
Kita. Malam itu.
Ibu saya bukan Ibu yang baik. Setidaknya itu yang saya rasakan saat hampir 22 tahun tinggal seatap dengannya. Ibu selalu menyakiti hati saya.
Diberikan kalimat-kalimat pedas bagai sambal buatan Ibu sering saya terima. Saat nilai ujian matematika saya tidak sebagus seperti harapannya, sandal jepit yang sering Ibu pakai ke kamar mandi melayang ke tubuh kecil saya. Jika wortel di sup ayam buatannya saya sisakan di piring, Ibu tak segan menjejalkannya ke dalam mulut hingga saya muntah-muntah.
Saya dan Ibu bukan berarti tidak pernah mesra. Kami pernah bermesraan. Bila tak salah ingat, kami mesra saat saya berulang tahun ke lima. Saat itu, Ibu mengajak saya bermain ke taman safari. Kami duduk di dalam bus dan berkeliling. Melihat zebra, singa, jerapah, gajah. Ibu membelikan saya es krim rasa stroberi. Tak lupa sebuah boneka beruang dan sepasang sepatu sebagai hadiah ulang tahun. Saya senang sekali. Itu kali terakhir kemesraan kami sebagai ibu dan anak.
Ibu saya bukan ibu yang baik. Ibu selalu pergi meninggalkan saya sendirian di rumah kontrakan kami yang sempit. Saya kerja buat kamu!, katanya bila saya menanyakan mengapa Ibu jarang ada di rumah.
Saya iri melihat Vira, teman sebangku saya yang jika pulang sekolah dijemput Mamanya. Saya iri melihat Fanny disuapi Bundanya saat saya dan teman sekelas menjenguk Fanny yang sedang dirawat di rumah sakit. Saya iri saat Katon dan Zahra saling pamer nasi goreng buatan Maminya yang katanya paling lezat. Tak pernah sekali pun saya dijemput Ibu saat pulang sekolah. Tak pernah Ibu membuatkan bekal nasi goreng. Tak pernah Ibu menyuapi saat saya sedang sakit. Yang ada ialah omelan dan kata-kata yang pedasnya berlipat-lipat yang saya terima. Saya iri. Iri sekali.
Ibu saya bukan ibu yang baik. Saat saya tumbuh menjadi seorang remaja, Ibu tak pernah mengizinkan saya bermain di luar seperti layaknya reremaja.
Berangkat sekolah saya diantar, pulang sekolah saya dijemput. Bukan oleh Ibu tapi Pak Dirman, sopir keluarga kami. Ya, perekonomian keluarga kami membaik. Kami tak lagi tinggal di kontrakan sempit. Kami tak perlu lagi hutang di warung untuk membeli beras. Kami tak perlu lagi berhutang untuk membayar uang sekolah.
Keadaan ekonomi yang membaik nyatanya tak membuat Ibu tinggal. Ibu masih sama seperti dulu, jarang di rumah. Yang berbeda hanyalah pakaian dan tas dan sepatu dan perhiasan yang Ibu pakai. Lebih bagus. Lebih mahal.
Saya tak pernah tahu apa pekerjaan Ibu. Yang saya tahu, Ibu sering keluar rumah dan pulang hampir pagi. Bahkan beberapa kali tak pulang sampai seminggu. Saya ingin bertanya, tapi sudah tentu jawaban yang sama saya dapat.
Ibu saya bukan ibu yang baik. Saat saya kecil, Ibu pernah bercerita tentang burung elang malam. Burung yang meninggalkan telurnya di sarang burung lain; menitipkan anaknya untuk dirawat, diberi makan oleh burung lain dan dia pergi bebas, terbang ke manapun yang dia mau. Melupakan sang anak.
Ibu saya bukan ibu yang baik. Ibu pulang pukul 2 dini hari, berteriak-teriak. Ibu mabuk berat. Segala sumpah serapah Ibu ucapkan. Dari dalam kamar saya bisa mendengar Ibu menyebut nama Ayah.
"Bajingan kamu, Mas! Kamu ninggalin aku demi pecun. Anjing! Kamu ninggalin anak kamu! Aku musti kerja banting tulang buat ngidupin anak yang aku juga nggak tahu siapa ibunya! Bangsat!"
***
Ibu saya bukan ibu yang baik. Namun, Ibu yang tidak baik ini merawat saya sejak bayi, bekerja pontang-panting, berhutang ke sana ke mari menghidupi saya; memberi makan saya, membayarkan uang sekolah saya, memberikan saya tempat tinggal; seseorang yang ternyata bukan darah dagingnya; seseorang yang ditinggal Bapak kandungnya demi perempuan jalang lainnya; selain Ibu saya.
Ku umpakan keseluruhan diriku ialah lautan. Permukaannya ialah pantai. Dalamnya ialah samudra.
Aku ingin jadi pantai dengan pasirnya yang berkilatan jingga saat senja tiba. Airnya yang tenang. Angin semilir juga beberapa pohon ketapang sebagai tempat berteduh kala matahari menjerang.
Aku ingin jadi pantai; tempat orang bermain air, bermain pasir, menerbangkan layang-layang, duduk di bawah pohon sembari berbincang dan makan bekal dari rumah; tempat orang bersenang-senang.
Aku ingin jadi pantai; tempat orang menangis, membuang kenang yang menghilangkan tenang, bercakap dengan senja.
Aku ingin jadi pantai yang dirindukan orang. Aku ingin mereka tenang. Aku ingin mereka senang.
Aku ingin jadi samudra. Tidak, bukan aku! Tapi hatiku.
Aku ingin hatiku serupa samudra; luas dan dalamnya tak terkira. Hingga aku bisa menyimpan segala rasa yang kupunya di sana. Tanpa takut ia kan sesak karena terlalu penuh.
Aku tak perlu meluapkan marah, kecewa, tersinggung, sakit hati, takut dengan apa yang orang alamatkan padaku. Aku tak usah kepayahan meladeni mereka, karena semua bisa kusimpan, bisa kutampung dalam hatiku yang luas dan dalamnya seolah samudra.
Aku tak perlu meluapkan rasa bahagia, gembira bahkan jatuh cinta pun pada mereka. Semuanya bisa kusimpan dalam hatiku yang luas dan dalamnya seolah samudra.
Ada yang bertanya, mengapa aku tak ingin jadi langit. Tidak! Aku tak ingin jadi langit. Aku ingin jadi laut!
Aku hanya bisa memandanginya saja. Dari jauh. Aku tak pernah tahu bagaimana rasa langit. Seperti apa aromanya. Bisakah orang bersenang-senang di sana layaknya mereka bersenang-senang di pantai?
Jadi kutegaskan, aku tak ingin jadi langit!
Aku ingin jadi laut; jadi pantai; jadi samudra.
Kota M, 27 Sep 2015
Untuk Seseorang yang Ingin Jadi Laut
Namanya Naya. Mengkhayal ialah pekerjaannya. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan. Hingga sampai sekarang telah memasuki tahun ke sembilan.
Khayalannya sederhana. Hanya tentang kehidupan di masa lalunya. Tentang keluarganya. Tentang teman-temannya. Tentang betapa lurus perjalanan hidupnya kala itu. Tak ada masalah pelik yang dihadapinya. Bahkan tak pernah ada. Hidupnya bagai sehelai daun oak yang jatuh di aliran sungai saat musim gugur tiba. Mengikuti arus air yang tenang. Tiada hambatan. Tanpa perlawanan.
Hidupnya bahagia. Dulu, di kampungnya, siapa yang tak kenal Naya. Gadis muda belia yang cerdas. Keluarganya harmonis. Bukan orang kaya, namun apa yang ia butuhkan didapatkannya. Belum lagi teman-temannya. Indah, Ani, Rizky, Yanti. Mereka berikrar sebagai sahabat sejati. Juga Bayu kekasihnya.
Namun, semua berubah sembilan tahun lalu; sama seperti usia pekerjaannya sekarang; berkhayal. Ketika ibunya kedapatan sedang tumpang tindih dengan Pak Lurah di gubuk pinggir sawah Aki Lulung. Warga murka, mereka diarak telanjang keliling kampung.
Keluarganya yang harmonis seketika berantakan. Kacau balau. Ibunya jadi gila, tak sanggup menanggung malu. Kejadian itu membuat Bapak dipecat sebagai mandor pabrik tebu.
Orang kampung tiada henti bergunjing. Sebagian memaki, terlebih ibu-ibu. Berbagai sumpah serapah mereka beri. Tak terkecuali sahabat-sahabatnya.
"Malu lah berteman sama orang yang ibunya jadi gila karena main gila", kata Yanti.
"Jangan-jangan nanti pacar-pacar kita direbut sama dia. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya", Ani menimpali.
Mereka terbahak.
Pun Bayu yang kini berpaling pada Indah, sahabatnya.
Bapak kemudian pergi ke Malaysia. Mengadu nasib menjadi tukang cuci piring di restoran milik kenalan lamanya. Menurut Naya itu hanya alasan. Bapak pun tak sanggup menanggung aib yang dibuat Ibu.
Jaga dirimu baik-baik, Nak, kata Bapaknya sebelum pergi.
"Hari ini cukup, deh. Kemalaman gue pulang, bini curiga nanti. Uangnya gue taro di meja. Thanks sayang"
Maafin Naya, Pak. Tak bisa jaga diri, Naya terisak di sela tangisnya yang tak bersuara.
***
Sepeninggal Bapaknya ke Malaysia, Danu, kakak lelaki pun saudara satu-satunya yang ia punya menjualnya ke Mak Inah, mucikari yang sering mencari perempuan-perempuan muda untuk dipekerjakan menjadi pekerja seks di Jakarta.
Namaku Dan. Perkara jenis kelamin, terserah kamu mau menganggapku seorang laki-laki, atau seorang perempuan. Toh, itu takkan memengaruhi keasyikan kita bercerita bila memang cocok; nyambung saat bertukar pikiran.
Sebagai seorang manusia, saya termasuk dalam golongan kurang ajar? Brengsek? Bejat? Entahlah yang mana. Sebentar, apa ada penggolongan manusia berdasarkan apa yang telah atau sedang diperbuatnya?
Kamu pasti bingung mengapa saya memasukkan diri sendiri dalam golongan manusia yang seolah takkan mungkin diampuni Sang Pencipta. Lucu sekali jika mengingat hal tadi. Manusia-manusia lain; di sekitar saya, menghakimi saya, menggelarkan saya sebagai Si Bedebah, Si Brengsek, Si Biadab, Manusia Kotor, dan kata mereka dosa saya terlalu banyak, hingga mustahil jika Sang Khalik dapat mengampuni. Banyak manusia yang mentahbiskan dirinya sendiri sebagai Tuhan.
Kembali ke pertanyaan saya tadi, perihal kebingungan kamu. Saya akui, saya memanglah sebenar-benarnya pendosa. Saya pembohong besar. Saya penipu ulung. Saya si raja tega. Entah telah berapa banyak orang yang saya tipu daya. Apa keberhasilan ini ialah karena kecerdikan saya, atau selama ini saya bertemu dengan orang-orang bodoh hingga begitu mudahnya mereka saya tipu. Saya pun bingung menjawabnya.
Ketika itu saya masih kelas 5 Sekolah Dasar. Lalu saya mencuri uang Nenek, padahal saya tahu, uang itu akan dipakainya membayar sekolah saya. Saat ditanya Nenek, saya berhasil mengelak, dan Nenek percaya. Itulah awal mula saya menjadi penipu hingga saat ini. Beranjak remaja, saya mulai menipu teman-teman. Yang laki-laki maupun perempuan. Demi bergaya seperti kaum borjuis saya menipu mereka. Pinjam uang, tak dikembalikan. Pinjam barang, lalu digadaikan. Saat mereka menagih, lidah saya seperti telah terlatih untuk mengelak, memberi alasan ini dan itu, dan bodohnya mereka percaya. Saya memang cerdik.
Ada saat di mana hari keberuntungan saya tak datang. Hari itu ialah hari di mana orang yang berhasil saya perdaya, sebut saja berhasil saya perdaya sementara mulai curiga. Uang dan barang yang saya pinjam mulai ditagih. Saya dilabrak, dimaki, dipukuli kemudian dilaporkan polisi. Namun, hari keberuntungan saya datang lagi hingga akhirnya saya berhasil melarikan diri.
Saya pernah menipu anak kecil, orang tua, suami orang, istri orang, kekasih orang. Bahkan, pengusaha dan artis-artis yang sering muncul di televisi pernah juga saya kelabui. Sungguh, banyak sekali orang bodoh di dunia ini.
Saya ialah Si Penipu yang mujur, hingga pada suatu ketika, hari kemujuran saya berakhir. Hari keberuntungan saya tak datang. Ia seolah lelah terus-terusan membantu penjahat seperti saya.
Ialah dia, seseorang di dalam cermin,
"Belum puas kau menjadi penjahat? Belum puas kau meracuni anakmu dengan uang haram itu? Apa kau menunggu dia mati baru kau berhenti?"
Ruang ICU Rumah Sakit Umum Pusat salàh satu kota di Jawa Tengah.
Sudah kuduga mereka pasti kan bertanya. Prediksiku meleset. Kupikir, dengan sedikit polesan make up bisa membuat wajahku terlihat baik-baik saja. Perona pipi merah muda kupoleskan lebih tebal dari seharusnya, namun tidak bisa menutupi lebam di pipi kiriku. Belum lagi dengan luka di pelipis kanan dan mata bengkak.
Seharusnya aku berdiam di rumah saja. Mengunci diri di kamar, agar tak ada yang melihat wajahku yang entah seperti apa rupanya. Hingga takkan kutemui pertanyaan-pertanyaan sial itu.
Sama seperti malam-malam sebelumnya, tadi malam bajingan itu menghajarku habis-habisan. Masalahnya sepele, hanya karna aku terlambat membukakan pintu. Terang saja, mana ada orang yang masih terjaga pukul dua dini hari. Rambutku ditarik, wajahku ditampar, kemudian aku dihempaskan ke meja. Untung saja aku cukup gesit untuk menahan tubuhku agar tak rubuh. Kemudian yang kulakukan, menangis sampai pagi.
Bajingan itu ialah pamanku. Adik tiri mendiang ibu. Sampai di usianya yang hampir kepala lima, tak juga ia menikah. Bujang lapuk!
Pernah suatu kali teman kantornya datang ke rumah, mereka berbincang ngalor-ngidul hingga akhirnya kuketahui ia menjadi bujang lapuk begitu karna sakit hati. Perempuan yang dicintainya menikah dengan laki-laki lain.
Pantas saja, sampai saat ini ia tak pernah terlihat dekat dengan perempuan mana pun. Apà ia trauma? Apa ia membenci perempuan? Jika benar, tak heran, ia membenciku sebegitunya. Baginya aku ialah radio lama peninggalan kakek-nenek; tak berharga namun tak bisa ia buang.
Hampir dua puluh tahun aku tinggal bersamanya. Sepeninggal ibu, aku dititipkan padanya. Ibu memang tak punya saudarà lain selain bujang lapuk itu.
Yang kutahu peringainya memang kasar, hanya saja tak sampai main tangan. Aku yang kanak-kanak sering dihadiahkan kata-kata kasar. Namun, sejak aku kelas dua smp, ia mulai main tangan. Pernah aku dipukul dengan ikat pinggangnya karena aku lupa menaruh gula di secangkir kopinya. Sambil menghajarku ia sering berteriak-teriak. Wajahku terlalu mirip ayah katanya.
***
"Wajahmu kenapa, Mbak?", tanya Ainun.
Pertanyaan ke delapan yang kudapatkan hari ini. Satu dari sopir taksi yang tadi kutumpangi, satu dari satpam, satu dari mas resepsionis, tiga dari orang yang satu lift denganku, satu dari mbak OB dan satu dari Ainun; sekretaris paman.
Ainun ialah janda beranak dua. Walau telah kepala tiga lebih, namun wajahnya masih kencang. Dandanannya kece, badannya masih oke. Sering aku berharap agar paman jatuh cinta pada janda ini. Mungkin bila ia menikah, ia takkan menyiksaku lagi. Namun, bisa saja Ainun nanti yang merasakan hantaman tangan paman. Ah, tak tega aku padanya. Sudahlah! Jangan bahas Ainun. Ia tak begitu penting di sini.
"Bapak masih rapat, Mbak. Selesai pukul setengah dua belas. Setengah jam lagi", teriak Ainun ketika aku berlalu tanpa menjawab pertanyaannya.
***
Siang ini aku ke kantor paman, mengantarkan map merah yang tertinggal di rumah tadi pagi. Entah isinya apa, yang kutahu isi map itu penting. Jika bukan karena bajingan itu mengancam tidak akan membayarkan biaya perjalananku keliling Eropa saat meneleponku tadi, tidak sudi aku. Sebelumnya ia mewanti-wanti agar aku sebisa mungkin menutup "hadiah" yang ia berikan dini hari tadi. Pun mengingatkan untuk tidak menjawab pertanyaan apapun yang orang berikan padaku.
Kau pasti heran mengapa ia bersedia mengeluarkan uang untuk seseorang yang dibencinya. Jika kau bertanya padaku, jawabanku tidak tahu. Alah, persetan dengan segala alasan. Aku tak peduli. Mungkin itu rasa penyesalan atau mungkin "upah" karena aku selalu jadi bulan-bulanannya. Yang penting bagiku, aku bisa bersenang-senang. Walau mungkin kesenangan itu harus dibayar dengan penyiksaan darinya.
***
Aku masuk ruangan kerja paman. Kosong. Sepi. Ia memang tak ada di sana. Aku bebas mengamati. Sebagai seorang bujang lapuk yang tidak memiliki perasaan, ruañg kerjanya cukup rapi.
Map merah yang kubawa tadi kutaruh di mejanya, sembari mataku berkeliling. Kutemukan kotak kayu hitam di kolong meja di sudut ruang kerja paman. Rasa penasaranku muncul; ingin tahu apa isi kotak itu.
Kuamati kotak itu, atau kusebut saja peti kecil itu. Peti itu kusam, ada ukiran-ukiran di sisi-sisinya. Terlihat seperti barang antik.
Rasa ingin tahuku membuncah. Kuamati sekeliling. Sepertinya paman belum selesai rapat. Kata Ainun tadi paman akan selesai pukul 11.30. Kutengok arloji di tanganku, 11.15, masih 15 menit lagi. Cepat-cepat kubuka kotak itu. Ada sepucuk surat.
Kepada Raesaka,
Kau tentu tahu maksud surat ini. Kau pasti marah. Kau membenciku. Maafkan aku Rae. Aku benar-benar bingung.
Kau perlu tahu, aku benar-benar mencintaimu. Demi Tuhan! Namun, aku tak bisa menolak permohonan Ibu. Kalau pun Ibu tak memintaku bertunangan dengan Alex, kita tetap tak bisa bersama. Kau akan menjadi adikku. Ayahmu dan Ibuku akan menikah.
Maafkan aku Rae, aku mencintaimu.
Maila.
19 Juli 2015,
Anggi Bintang
Sudah seminggu ini hati Gusti gusar. Memikirkan segala kegundahan. Malam ini juga sama. Di kamar bercat kelabu, Gusti duduk di atas ranjangnya. Menyandarkan kepala yang terasa berat.
Gusti memikirkan Tari, wanita yang sudah 6 tahun dipacarinya. Wanita yang membuat hidupnya lebih berwarna. Wanita yang membuatnya merasa bagai seorang raja. Wanita yang seminggu lagi dinikahinya.
Aku harus memberi tahu Tari. Tiada waktu lagi. Batin Gusti berbicara. Lalu terlintas wajah Tari. Wanita cantik, pintar, mandiri, pengertian, juga lemah lembut. Wanita yang sangat ideal, sangat sempurna dijadikan seorang istri.
Gusti sadar, selama ini banyak pria yang berusaha mencuri hati Tari. Begitu banyak pria yang menginginkan Tari untuk dijadikan teman hidupnya. Begitu pun orang tua Gusti. Sungguh sayangnya ibu dan bapaknya pada wanita cantik itu.
Muncul potongan-potongan kenangan saat Gusti dan Tari berjumpa bertahun lalu. Di awali dari perkenalan mereka di pesta pernikahan Rahayu, teman sekantor Gusti yang juga teman semasa kuliah Tari.
Perkenalan itu berlanjut dengan saling bertukar nomor ponsel, kencan, hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.
Tari benar-benar wanita sempurna. Sangat sempurna. Pernah di satu waktu, ketika Tari ditugaskan ke Austria, Gusti mengalami kecelakaan mobil. Dengan sesegera mungkin, Tari pulang ke Bandung, demi Gusti.
Saat akhirnya Gusti harus bergantung pada kursi roda selama 3 bulan pasca operasi patah kaki. Dengan sabar dan telatennya Tari merawat Gusti. Tergambar jelas diingatan Gusti mata indah Tari, senyum manis Tari, lentiknya jari Tari. Dirasainya hangat pelukan Tari, manisnya kecupan bibir Tari, lembutnya kulit Tari. Semua membuat Gusti semakin merasa bersalah. Membuatnya semakin merasa berdosa pada wanita yang begitu sempurna itu.
Tak ada waktu lagi. Jangan jadi seorang pengecut. Hatinya menasehati.
Diambilnya ponsel di atas meja kayu bercat hijau tua. Gusti memencet empat angka pertama dari dua belas angka yang ia hafal di luar kepala. Nomor telepon Tari.
Dadanya berdegup kencang. Bibirnya bergetar. Satu kali nada panggilan. Dua kali nada panggilan. Di nada ketiga, terdengar suara lembut Tari. Peluh mengucur deras di seluruh tubuh Gusti.
Obrolan mereka malam itu tentang persiapan pernikahan mereka. Pada akhirnya, tak sedikit pun ia mengutarakan maksudnya pada Tari. Dasar pengecut! Gusti merutuki dirinya sendiri.
***
Hari pernikahan pun tiba. Dengan jas serba putih, Gusti dan iring-iringan menjemput sang calon istri untuk bersama ke gereja. Tak dapat dimungkiri, Tari semakin cantik dengan gaun putih yang dengan erat memeluk tubuh indahnya.
Lalu terlintas apa yang selama enam bulan ini dilakukan Gusti. Ia mengkhianati Tari, wanita yang begitu sabar dan setia bersamanya. Menemaninya. Haruskah Gusti menyakiti Tari dengan kenyataan yang begitu pahit ini di hari pernikahan mereka? Gusti semakin kacau.
Tapi, ini jauh lebih baik dari pada Tari tahu saat mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
10 menit lagi pemberkatan dimulai. Gusti resah di bangkunya.
Harus sekarang juga. Harus. Hati Gusti semakin gusar. Nafasnya sesak.
Diajaknya Tari ke tempat yang lebih sepi.
"Ada apa, Ti?"
"Tari, aku minta maaf"
"Maaf untuk apa?"
"Aku mengkhianati kamu"
"Maksud kamu?"
"Aku… Selingkuh. Maaf."
"Apa???"
Hening…
Tari tak menjawab. Gusti memejamkan mata. Bersiap jika Tari tiba-tiba menamparnya. Tapi tak terjadi.
"Lalu siapa wanita itu?"
"… Dia…"
Muncul dari balik pintu, Thomas, kakak lelaki tertua Tari.
Malam ini kedai kopi tak terlalu ramai, hanya beberapa meja yang terisi. Di sudut ruangan ada tiga gadis yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Di bagian tengah terlihat sepasang pasangan dewasa, mungkin pasangan suami istri. Dan di sudut yang lain ada aku. Sendirian. Tidak juga, secangkir espresso panas dan dua buah muffin coklat juga alunan lagu band Mocca yang kudengar melalui iPod merah; hadiah darimu menemaniku. Juga kamu, di pikiranku.
Entah apa yang membuatku kembali ke sini; kedai kopi favorit kita dulu. Tempat di mana kita bertemu pertama kali. Saat kamu menghampiri mejaku, meminjam korek api untuk menyalakan benda putih dengan ujung manis itu. Tempat di mana aku dan kamu sepakat untuk menjadi "kita". Juga tempat di mana kita bertemu untuk berakhir; 3 bulan yang lalu.
"Selamat ya sayang, kamu udah lulus. Satu dari beribu citamu sudah tercapai. Aku bangga sama kamu." Aku memulai percakapan.
"Iya, makasih sayang. Ini juga karna doa kamu. Cepet nyusul."
"Semoga tahun depan, ya."
"Kok semoga? Harus dong. Semangat!", katamu lalu mengacak lembut poniku.
"Iya ehehe..."
Lalu kita diam sejenak. Larut dalam pikiran masing-masing, mungkin. Entahlah.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Katamu memecah keheningan kita. Lalu kamu menggenggam tanganku. Hangat.
"Kamu itu orang yang baik. Baik banget. Mungkin karna itu banyak yang ingin dan senang jadi temanmu. Kamu selalu tulus, kamu selalu ada untuk siapapun yang butuh pertolongan." Ucapku.
"Lalu?"
"Aku bingung memulainya dari mana,"
"Kamu mau bilang apa, sih?"
"Aku mau kita… udahan. Maaf."
"…"
"Kamu gimana?"
"A apa, aku? Aku terserah kamu aja"
"Terserah?"
"… Iya"
"Ini yang aku nggak suka. Kamu nggak tegas. Kamu nggak pernah punya opini sendiri. Selalu bilang iya, terserah, ikut kamu aja. Kamu kenapa seperti ini, sih?"
"…"
"Kamu emang selalu bisa jadi teman yang baik buat semua orang. Baik banget. Tapi kamu nggak bisa, kamu bukan pacar yang baik!"
"Aku cuma nggak pernah mau bikin kamu kecewa."
"Dengan selalu bilang iya, nggak apa-apa, terserah kamu, aku ikut kamu. Gitu? Kamu nggak pernah marah kalau aku salah. Aku nggak minta selalu diturutin apapun yang aku mau. Aku ingin kita sama-sama saling mengingatkan kalau salah satu di antara kita ada yang salah. Ada yang keliru. Bukan ini!"
"Aku pikir kamu suka dengan sikapku ini".
"Aku bukan remaja lagi! Maksudku kita!".
"………"
"Jadi kamu mau terus diam? Mau terus ngikutin kata aku?"
"………"
"Aku mau kita udahan. Aku capek sama kamu. Aku capek sama patuh kamu. Aku capek sama nggak punya pendiriannya kamu".
------------------------------------
Kejadian malam itu muncul lagi. Entahlah, kedai kopi ini seperti sebuah layar putih yang siap menampilkan apapun yang operator proyektor putarkan. Dan sialnya, sang operator ialah aku.