December 6, 2019

Cerita Abu


Kenapa seperti ini lagi, sih? Kenapa asa itu muncul lagi. Tidak sebesar kemarin memang—mungkin ia hanya setitik—namun tetap saja; kau tau betul apa yang akan terjadi ketika asamu kau pelihara. Rasa sakit yang akan menghabisimu perlahan. Kemudian kau mati. Jadi abu, terbang, kemudian hilang tersapu angin.

Memang itu yang kuinginkan. Aku yang menjelma abu bisa terbang mengelilinginya; menempel di kulitnya; masuk dalam pori terkecilnya; meresap kemudian bergabung dengan partikel terkecil tubuhnya; masuk ke dalam darahnya; mengendap di sana—kemudian jadi penyakit. Aku meracuninya dari dalam. Dan kubunuh ia perlahan. Sampai tubuhnya mati kemudian dikremasi; jadi abu dan diterbangkan juga oleh angin yang membawaku terbang menempel ke tubuhnya.

Aku jadi abu kemudian jadi abu lagi.

November 30, 2019

Sudah Waktunya Aku Berkemas

Sudah waktunya aku berkemas; membersihkan kepingan-kepingan hati lalu membawanya pergi. Aku tidak punya tenaga lagi untuk tetap tinggal di rumah yang kau tinggalkan duluan—berharap suatu saat kau akan kembali pulang.

Sudah waktunya aku berkemas; merelakan kau. Melepas kepergianmu yang begitu buru-buru. Atau aku saja yang tidak sadar jika kau telah bersiap sejak lama untuk meninggalkan?

Sudah waktunya aku berkemas; membuka tali-temali ekspektasi yang kuikat begitu kuat padamu.

Sudah waktunya aku berkemas; kembali berjalan lagi.

Aku melepasmu seikhlas-ikhlasnya—aku memaafkanmu setulus-tulusnya. Semoga yang ingin kau raih, kau dapatkan. 

Terima kasih sudah pernah ada.



AB.
Kecamatan K.

October 4, 2019

Festival Musik


Setahun lalu, di festival musik yang sama.

Festival musik yang ramai dibahas di media sosial karena semua yang ada di dalamnya apik. Aku turut merasakan datang ke acara yang sama; mungkin terbawa keriaan para penonton yang merekam kemudian mengunggah di media sosial yang mereka punya.

July 25, 2019

Takut dan Terikat

"Chemistry itu misteri. Bagaimana kita bertemu, kenapa kita bisa seperti sekarang, apa yang kita pikirkan sampai bisa seberani ini; semuanya misteri. Kita yang sekarang, ya, begini. Jalani saja. Toh, kita nggak macem-macem. Tujuan kita sama-sama baik. Nggak usah memikirkan hal-hal yang nggak perlu. Aku ada buat kamu; kamu ada buat aku. Sudah cukup,"